CFD dan Night Market Dongkrak Penjualan UMKM di Belu

  • 06 Okt 2026 22:59 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Car Free Day (CFD) dan Night Market yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten Belu ikut mendongkrak penjualan pelaku UMKM di Atambua. Pengakuan datang May Irham, Pemilik usaha Es Teler Creamy, kepada rri.co.id, Senin 6 Oktober 2026.

Diakuinya selain CFD dan Night Market, ajang lain yang diselenggarakan Pemda Belu seperti pameran, dan kegiatan bazar ikut berkontribusi meningkatkan penghasilannya. Disamping itu, selain akhir pekan, setiap hari dirinya juga tetap menjajakan jualannya di lokasi tetap.

Dengan peluang yang ada pelaku UMKM ini, juga memanfaatkan setiap ajang diselenggarakan pemerintah daerah untuk memperluas pemasaran.“Kalau Car Free Day itu bisa tiga kali lipat hasilnya, untungnya juga bertambah,” ujarnya saat ditemui di depan Hotel Timor Atambua.

Pelaku UMKM ini juga manfaatkan, cuaca panas di Atambua untuk memasarkan berbagai minuman segar, demi menambah pendapatan. Usaha tersebut telah dijalankan sekitar tiga bulan dengan memanfaatkan lokasi yang dinilai strategis, nyaman dan ramai dikunjungi masyarakat.

“Kondisi cuaca Atambua yang panas sehingga saya kira, minuman dingin ada peluang pasar yang baik. Apalagi ini sudah masuk puncak musim kemarau, ya sangat mendukung, jadi saya berpikir jualan es teler pasti laku,” ucapnya.

Walau demikian diakui May, sebagian bahan baku masih didatangkan dari Jawa untuk produksi sejumlah produknya. “Tapi ongkos kirim mahal juga, sehingga kami cari alterntif bahan di Atambua, biar bisa lebih hemat waktu dan biaya.”

Dalam menjalankan usaha, jumlah bahan yang digunakan disesuaikan dengan kondisi penjualan. Saat ramai, kebutuhan bahan dapat mencapai sekitar dua kilogram per hari, sedangkan ketika sepi hanya sekitar satu kilogram.

Pelaku UMKM ini juga menerapkan pencatatan sederhana untuk mengetahui jumlah penjualan, bahan yang digunakan serta pemasukan dan pengeluaran setiap hari. “Naik turunnya tiap hari itu dicatat. Habis gelas berapa, bahan habis berapa, saya catat semua. Jadi tahu pengeluaran dan pemasukan,” katanya.

Untuk memenuhi target penjualan, sedikitnya 50 cup diupayakan terjual setiap hari. Produk yang ditawarkan terdiri dari es teler, es cendol, es campur dan es pisang hijau, dengan harga mulai Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per cup.

Pemasaran juga dilakukannya melalui Facebook, TikTok dan WhatsApp. Selain melayani pembelian langsung, usaha tersebut juga menyediakan layanan pengantaran dengan sistem COD, bahkan pernah mengantar pesanan hingga kawasan luar kota Atambua.

Ia berharap pemerintah terus memperbanyak kegiatan seperti CFD, pameran dan lomba yang melibatkan pelaku UMKM. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat membantu meningkatkan penjualan dan memperkenalkan produk kepada masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....