Manfaatkan Sisa Air Resapan di Bantaran Kali, Warga Tani di Belu Budidaya Sayur
- 24 Agt 2026 08:01 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, mulai berdampak pada ketersediaan air bagi warga tani. Sejumlah sumber air di lokasi kali berangsur mengering hingga aliran air mulai tidak mengalir seperti biasanya.
Kondisi tersebut membuat warga tani semakin kesulitan melakukan aktivitas bercocok tanam. Namun, ancaman kekeringan tidak menyurutkan semangat petani di Kelurahan Umanen, Kabupaten Belu, untuk tetap produktif dengan memanfaatkan sisa ketersediaan air yang masih ada di sekitar bantaran kali.
Salah satunya dilakukan Yakobus Suri. Untuk mempertahankan tanaman sayuran di tengah keterbatasan air, Yakobus membuat sumur di tepi kali yang berfungsi sebagai sumur resapan. Sisa air yang masih terdapat di dalam tanah kemudian tertampung di sumur tersebut dan dimanfaatkan untuk mengairi tanaman.
“Bulan Agustus mulai kering air kali. Bisa gali di pinggir, dari resapan air di sumur resapan bisa untuk siram sayur yang ditanam,” kata Yakobus.
Air dari sumur resapan selanjutnya dinaikkan menggunakan mesin pompa untuk dialirkan ke bedeng-bedeng tanaman. Upaya tersebut membuat petani tetap dapat mempertahankan tanaman meskipun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM).
Yakobus mengatakan, kelompok tani setempat juga terbantu dengan adanya mesin genset bantuan dari Dinas Pertanian yang dapat digunakan untuk mendukung aktivitas pengairan lahan.
“Mesin genset bantuan Dinas Pertanian untuk kelompok tani kita bisa pakai. Uang yang perlu tambahan karena harus membeli BBM untuk mesin genset. Sekali siram minimal dua liter,” ujarnya.
Menurut Yakobus, kondisi kekeringan setiap tahun membuat warga tani di wilayah tersebut umumnya hanya dapat melakukan satu kali musim tanam untuk budidaya sayuran. Aliran air di lokasi kali biasanya mulai mengalami penurunan dan mengering pada periode Agustus hingga September.
Meski demikian, warga tetap memanfaatkan sisa air yang tersedia untuk menanam berbagai jenis sayuran di kawasan bantaran kali, tepatnya di belakang salah satu gerai ritel di Kelurahan Umanen, Kabupaten Belu.
Sejumlah komoditas yang dibudidayakan antara lain kangkung, terong, sawi, tomat, dan daun bawang. Hasil panen kemudian dijual ke pasar lokal di Atambua untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperoleh tambahan pendapatan bagi keluarga petani.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan air akibat kemarau tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas pertanian masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi sederhana, sumur resapan, mesin pompa, serta dukungan sarana pertanian, warga tetap berusaha mempertahankan produktivitas lahan sekaligus menjaga sumber pendapatan ekonomi di tengah musim kering.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....