Petani Milenial di Belu Panen Tomat, Bekerja Dapat Hasil dari Keringat Sendiri
- 22 Agt 2026 07:30 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Bertani di usia muda mungkin belum menjadi pilihan utama bagi sebagian pemuda. Namun, kondisi berbeda terlihat di Dusun Lalosuk, Desa Manleten, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sejumlah pemuda justru memilih menghabiskan waktu di kebun dan bekerja membantu orang tua sekaligus mencari penghasilan dari hasil pertanian.
Salah satunya dilakukan Robin Hale, pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan SMA di Atambua. Ia memilih memanfaatkan waktu luang dengan bekerja di kebun daripada menghabiskan waktu untuk aktivitas yang tidak produktif.
Pantauan RRI.co.id di salah satu lahan garapan warga di Dusun Lalosuk, Jumat, 20=1 Agustus 2026, terlihat dua pemuda bekerja memanen buah tomat yang telah matang. Mereka tampak giat memetik tomat dan mengumpulkannya untuk kemudian dibawa keluar dari lahan.
Panen kali ini merupakan panen terakhir dari tanaman tomat tersebut setelah sebelumnya petani telah beberapa kali melakukan pemetikan buah.
Bagi Robin, aktivitas di kebun bukan sesuatu yang memalukan. Sebagai anak yang lahir dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana, bekerja membantu orang tua sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
| Baca juga: Pengembangan Kopi Tingkatkan Ekonomi |
Ia bahkan menilai bekerja di kebun merupakan pilihan yang jauh lebih positif dibandingkan menghabiskan waktu hanya untuk berkumpul tanpa tujuan.
“Teman-teman lain biasanya memilih gampang, cari suasana ramai, nongkrong di jalan, miras, padahal itu salah. Kalau saya anak petani, jadi kalau orang tua kerja kita juga harus kerja,” kata Robin.
Menurut pemuda tersebut, bekerja di kebun tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman dan keterampilan yang dapat berguna di masa depan.
Ia mengaku sejak kecil sudah terbiasa membantu orang tua di kebun. Kebiasaan tersebut terus dilakukan hingga dirinya menyelesaikan pendidikan SMA.
“Terbiasa bekerja sejak kecil dengan orang tua, biasa sudah di kebun. Pulang sekolah diajak orang tua ke kebun, jadi tidak pernah malu. Ini kan kerja sendiri dapat uang,” ujarnya.
| Baca juga: Kopi Henes Didorong Jadi Produk Unggulan |
Apa yang dilakukan Robin dan keluarganya bukan sekadar aktivitas membantu di kebun. Lahan yang mereka garap memiliki luas sekitar empat are dan ditanami sekitar 6.000 bibit tomat.
Untuk memulai usaha tersebut, dibutuhkan modal awal sekitar Rp.5 juta. Setelah tanaman memasuki masa panen dan dilakukan pemetikan buah secara bertahap, pendapatan yang diperoleh disebut telah mencapai lebih dari Rp.40 juta.
Besarnya pendapatan tentu sangat bergantung pada produktivitas tanaman serta harga tomat di pasaran. Saat harga komoditas tomat berada pada kondisi baik di pasar Atambua, harga dapat mencapai sekitar Rp.600 ribu per keranjang.
Dengan hasil tersebut, modal awal yang dikeluarkan petani telah dapat kembali, sekaligus memberikan keuntungan dari usaha tani yang dijalankan.
Bagi Robin, hasil yang diperoleh dari kebun menjadi bukti bahwa bekerja dengan mengandalkan tenaga sendiri dapat memberikan hasil yang nyata.
Kisah Robin menjadi gambaran bahwa sektor pertanian masih memiliki peluang ekonomi bagi generasi muda di daerah. Pilihan untuk terjun ke kebun tidak selalu berarti pekerjaan tanpa masa depan. Dengan pengelolaan yang baik, komoditas pertanian seperti tomat dapat memberikan pendapatan yang cukup menjanjikan.
Selain mendapatkan penghasilan, keterlibatan anak muda dalam usaha tani juga membantu keberlangsungan pekerjaan orang tua serta memberikan bekal keterampilan praktis.
Di tengah tantangan mencari lapangan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan, pengalaman Robin menunjukkan bahwa lahan pertanian dapat menjadi salah satu pilihan untuk menciptakan penghasilan secara mandiri.
Bekerja di kebun, bagi Robin, bukan sekadar membantu orang tua. Aktivitas tersebut menjadi bentuk kemandirian sekaligus cara untuk memperoleh pendapatan dari hasil keringat sendiri.
Panen tomat di Dusun Lalosuk pun menjadi cerita sederhana tentang bagaimana anak muda dapat memilih bekerja, belajar bertani, dan menghasilkan uang dari lahan sendiri daripada menghabiskan waktu pada kegiatan yang tidak memberikan manfaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....