Entrepreneur Harus Jaga Spirit Mental dan Fisik Kuat
- 03 Agt 2026 08:55 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Yumince Solaiman Pinat, S.Th., CLC, Marketing Trainer UMKM, menegaskan tiga fondasi utama entrepreneur dalam program Ekonomi Digital RRI Atambua, Jumat 31 Juli 2026. Ia menyebut spirit, mental, dan fisik harus dijaga seimbang agar pelaku usaha mampu bertahan dan berkembang dalam tekanan bisnis yang nyata.
Menurutnya, perjalanan menjaga spirit agar tetap hidup bukan perkara mudah karena dipengaruhi tantangan harian dan tekanan target usaha yang terus bergerak dinamis. Ia menambahkan mental yang kuat menjadi penopang utama saat menghadapi kegagalan berulang, sementara fisik sehat memastikan konsistensi kerja tetap terjaga sepanjang waktu.
“Spirit yang pure, mental yang kuat, tubuh yang sehat itu menjadi kunci utama seorang pebisnis untuk bertahan dan bertumbuh,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pebisnis level atas tidak lagi sembarang dalam menjaga pola hidup karena memikirkan keberlanjutan usaha dan hidup mereka.

Yumince menjelaskan dunia bisnis tidak memberi ruang untuk manipulasi karena setiap proses akan diuji oleh angka dan hasil nyata di lapangan. Ia menilai jika proses salah maka target tidak akan tercapai, sehingga pelaku usaha harus jujur terhadap kapasitas dan strategi mereka sendiri.
Ia mengungkapkan fakta bahwa hanya sedikit UMKM mampu bertahan hingga tiga tahun karena fondasi mental tidak dibangun sejak awal dengan benar. Menurutnya, banyak pelaku usaha hanya mengejar margin tanpa membangun merek dan kepercayaan yang menjadi nilai jangka panjang.
“Kalau kita mau jual brand, kita mau jual kepercayaan, maka tiga tahun pertama itu fase menentukan apakah usaha dilanjutkan atau tidak,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa dalam fase tersebut modal besar biasanya sudah dikeluarkan dan pelaku usaha baru mulai membaca arah keberlanjutan bisnis.
Lebih lanjut, Yumince menyebut bahwa membangun bisnis besar membutuhkan pola pikir jangka panjang karena banyak UMKM hanya bertahan pada skala kecil untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ia menegaskan bahwa keputusan menjadi startup serius biasanya baru diambil setelah tiga tahun, sementara kelayakan dinilai setelah sepuluh tahun perjalanan usaha.
“Kalau tidak punya napas panjang, lebih baik pertimbangkan kembali karena bisnis bukan proses instan dan tidak bisa dipaksakan,” tuturnya. Ia juga menekankan pentingnya belajar sebelum memulai agar risiko kegagalan bisa diminimalisir sejak tahap perencanaan.
Ia menambahkan bahwa evaluasi diri menjadi bagian penting dalam perjalanan entrepreneur karena kegagalan sering kali berasal dari kesiapan pribadi, bukan hanya produk yang ditawarkan. Yumince menegaskan bahwa pelaku usaha harus berani memperbaiki diri secara berkelanjutan agar mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berubah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....