Sentra Tenun Mako Alor, Proses Tradisional yang Ramah Lingkungan

  • 25 Mar 2026 18:44 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID,Atambua:Founder sentra tenun khas mako Kabupaten Alor-NTT Sariat Tole berkomitmen merawat tradisi dan alam melalui penggunaan bahan-bahan alami dalam tenun ikat karena didorong oleh keinginan untuk menjaga keaslian budaya, kualitas produk yang tinggi, dan pelestarian lingkungan.

Melestarikan Warisan Leluhur,menurut mama Sariat(sapaan akrab),ingin mempertahankan teknik menenun tradisional yang diajarkan ibunya sejak usia lima tahun.

‘’Penggunaan pewarna alami seperti tinta cumi, getah jambu mete, daun kelor,tanaman nila dan mengkudu serta benang kapas yang ditanam sendiri adalah bagian dari keaslian budaya yang ingin kami teruskan,’’ucap Sariat kepada rri.co.id, Rabu 25 Maret 2026.

Tenun Ikat gunung Mako, yang berasal dari Desa Alor Besar Kecamatan Alor Barat Laut ini dikenal sebagai salah satu produk unggulan yang mengutamakan kualitas tinggi dan keberlanjutan lingkungan

‘’Penggunaan bahan alami bisa menghasilkan kain tenun dengan warna khas, lebih halus, tebal, dan tahan lama.Kualitas ini sangat disukai oleh pasar internasional yang mengapresiasi produk ekologis dan autentik disukai negara Jepang dan Jerman,serta dalam bulan maret 2026 ada pesanan yang kami kirim dua kali ke negara Vietnam,’’ujar Sariat.

Fungsi pelestarian yang dilakukan,khususnya melalui Tenun Gunung Mako berfokus pada pendekatan ramah lingkungan.

“Dengan mengolah bahan-bahan dari alam sekitar (pewarna alami)tidak merusak lingkungan dengan limbah pewarna kimia dan ini mencerminkan keseimbangan antara kreativitas seni dan perlindungan ekosistem,’’katanya.

Dedikasi Mama Sariat menjadikan tenun Alor sebagai karya seni yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga sarat akan nilai budaya dan dan membangun kemandirian ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat Alor.

‘’Melalui karya tenun ini agar dapat mewujudkan integrasi antara pelestarian budaya, seni berkualitas tinggi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat serta turut menjadikan tenun Alor sebagai warisan yang tidak hanya dipandang sebagai sehelai kain, tetapi sebagai identitas budaya yang bernilai ekonomi tinggi,’’ucap mama Sariat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....