Tradisi Tamahusu di Takirin-Belu

  • 26 Jan 2026 15:53 WIB
  •  Atambua

KBRN, Atambua: Dalam kehidupan masyarakat moderen di Belu-NTT, tradisi Tamahusu masih dipraktikkan oleh suku Tetun yang mendiami Desa Takirin, Kec. Tasi Feto Timur. Informasi disampaikan Drs. Pius Maxi Mura, Tokoh Adat Halimodok-Takirin dan Pemerhati Budaya Fialaran, kepada rri.co.id, Minggu 25 Januari 2026.

"Tradisi ini gerbang dari seluruh rangkaian panjang menuju acara perkawinan, dalam adat kami. Ini bukan sekadar prosesi, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap strata sosial dan silsilah keluarga," ujarnya.

Baca Juga: Ritual Adat di Takirin-Belu Masih Lestari

Lebih lanjut, Pius Maxi Mura menyebut tahap Tama Husu (Pinangan) lazimnya menjadi titik awal. Dimana nilai luhur dan identitas kesukuan dipertaruhkan melalui musyawarah antar keluarga besar.

Pada tahap ini, mahar atau Belis dibicarakan kedua bela pihak, dan menjadi simbol martabat. Dimana bagi golongan bangsawan atau Dato, jumlah mahar bisa mencapai belasan ekor sapi dan puluhan helai kain (Tais) berkualitas tinggi.

Namun, menurut sesepuh Belu yang akrab disapa Maxi Mura ini, nilai mahar atau Belis bagi masyarakat umum tentu berbeda. "Jumlahnya disesuaikan dengan kesepakatan tanpa mengurangi rasa hormat," ucapnya.

“Ritual ini adalah cara kami menghargai harkat martabat manusia atau perempuan. Sapi, uang perak, uang kertas (Rupiah) dan kain tenun bukan sekadar harta yang harus diberikan pihak keluarga pria," ucapnya.

Kewajiban dimaksud jadi simbol ikatan darah, yang mempersatukan dua keluarga besar agar tetap harmonis. Dalam prosesi ini, semua anggota keluarga, termasuk yang muda mengenakan pakaian adat, dan suasana hangat penuh tawa akan mengisi prosesi adat.

Dikatakannya kelestarian Tamahusu membuktikan bahwa strata sosial dalam adat bukanlah pemisah. Melainkan kompas bagi masyarakat Tetun untuk menjaga keteraturan dan kehormatan keluarga dari generasi ke generasi

“Menghargai tradisi adalah cara kita menghargai jati diri, merawat tradisi, sama juga merawat kehidupan bangsa. Semoga ritual Tamahusu tetap menjadi pelita di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....