Kepedulian LIngkungan Perlu Dibangun Dari Keluarga

  • 20 Sep 2026 12:29 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kepedulian terhadap lingkungan dinilai perlu dibangun sejak dari keluarga melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi lingkungan pertama bagi anak untuk belajar mengenal, mencintai, dan menjaga lingkungan melalui tindakan nyata yang dilakukan bersama.

Pegiat lingkungan Suster Lestari,OSU mengatakan, salah satu tantangan dalam menerapkan pola hidup ramah lingkungan di keluarga adalah menjaga konsistensi. Kesibukan, berbagai kegiatan, serta kebiasaan yang dianggap kurang praktis dapat membuat upaya menjaga lingkungan yang sebelumnya sudah dilakukan menjadi kembali mengendor.

Menurut Suster Lestari, ketika orang tua mulai tidak konsisten dalam menerapkan kebiasaan peduli lingkungan di rumah, kondisi tersebut dapat turut memengaruhi anak. Karena itu, orang tua perlu memberikan perhatian dan keteladanan secara terus-menerus agar kebiasaan baik tersebut dapat tumbuh dan dipertahankan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Pertama menurut saya adalah bagaimana sebuah konsistensi itu menjadi konsisten. Pembiasaan kan dibutuhkan konsisten," katanya kepada RRI Atambua, Sabtu, 19 September 2026.

Ia menjelaskan, upaya menjaga lingkungan tidak harus dilakukan oleh keluarga secara sendiri-sendiri, tetapi dapat diperkuat melalui gerakan bersama di lingkungan masyarakat. Kegiatan di tingkat RT, dasawisma, maupun kelompok masyarakat dapat menjadi ruang untuk saling mengingatkan sekaligus memperkuat kebiasaan menjaga lingkungan.

Ia menilai, keterlibatan kelompok masyarakat juga dapat membuat kepedulian terhadap lingkungan menjadi gerakan bersama yang lebih kuat. Pembicaraan mengenai lingkungan, termasuk melalui kelompok-kelompok masyarakat seperti arisan ibu-ibu, dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong tindakan bersama.

“Kalau ini menjadi gerakan misalnya, gerakan di RT atau dasawisma atau apa, kalau ini sering digerakkan dan menjadi gerakan, itu juga akan kuat. Di satu pihak ada tantangan, tetapi jalan yang mungkin bisa ditempuh adalah kita bergerak bersama," ucapnya.

Lebih lanjut, perubahan yang diharapkan dimulai dari keluarga adalah adanya komitmen untuk menerjemahkan pengetahuan dan kesadaran lingkungan ke dalam tindakan nyata. Menurutnya, masyarakat sudah memiliki pengetahuan dan kesadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan, namun hal tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan sekecil apa pun dan dilakukan secara berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan keluarga agar tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan. Jika mengalami kegagalan, keluarga diharapkan kembali mencoba, membicarakan kesulitan yang dihadapi, serta mencari dukungan agar upaya tersebut dapat terus berjalan.

“Jatuh, bangun lagi. Satu kali jatuh harus bangun. Berapa kalipun begitu, harus bangun dan bangkit lagi," ujarnya.

Suster Lestari juga mengajak para orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam membangun kebiasaan mencintai dan menjaga lingkungan. Menurutnya, meskipun dalam prosesnya keluarga dapat merasa lelah atau merasa belum berhasil, upaya tersebut harus terus dicoba, dimulai kembali, dan dilakukan secara berkelanjutan.

Ia berharap kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi tanggung jawab bersama karena masyarakat memiliki keprihatinan yang sama dalam menjaga kelestarian bumi. Upaya yang dilakukan keluarga dan masyarakat saat ini diharapkan dapat memberikan lingkungan yang baik dan lestari sehingga tetap dapat dinikmati oleh generasi anak cucu di masa mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....