Kekhawatiran Kerusakan Lingkungan Melahirkan Gerakan Permakultur

  • 05 Sep 2026 05:33 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan menjadi alasan utama berkembangnya praktik permakultur di berbagai daerah. Pendekatan ini hadir sebagai upaya mengembalikan keseimbangan hubungan manusia dengan alam sekitar.

Nina Purwiyantini,Nina Purwiyantini, Komisaris PT. Pah Kuan Matani Kefamenanu praktisi permaculture sekaligus mengungkapkan perilaku manusia yang kurang ramah lingkungan menjadi perhatian serius selama ini. Penebangan pohon berlebihan dan eksploitasi alam dinilai mempercepat kerusakan ekosistem yang terjadi.

Menurutnya, banyak masyarakat mengambil manfaat dari alam tanpa memberikan upaya pemulihan yang seimbang. "Kita selalu menebang pohon, mengambil hasil dari alam tetapi tidak pernah mengembalikan kepada alam," katanya kepada RRI Atambua, Jumat 4 September 2026.

Kondisi tersebut menyebabkan tanah kehilangan kesuburan dan kemampuan menyimpan air secara alami. Dampaknya semakin terasa ketika musim kemarau maupun hujan ekstrem terjadi dalam waktu panjang.

Nina menilai penggunaan bahan kimia berlebihan dalam pertanian juga memperburuk kesehatan tanah produktif. Akibatnya, lapisan tanah subur semakin menipis dan sulit mendukung pertumbuhan tanaman optimal.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan akan berdampak langsung kepada generasi masa depan nantinya. "Generasi di bawah kita tidak akan bisa lagi melakukan pertanian," ujarnya..

Perjalanan Nina mengenal permakultur dimulai sejak tahun 2006 hingga akhirnya mengikuti pelatihan bersertifikat. Ia kemudian mengembangkan praktik tersebut dalam rumah tangga serta kelompok masyarakat yang dibina.

Menurut Nina, permakultur sebenarnya menghidupkan kembali pengetahuan leluhur yang ramah terhadap alam. "Prima Culture sebenarnya mencatat kembali semua perilaku baik leluhur kita," tuturnya mengenai nilai penting kearifan lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....