ITB dan Nautika Foundation Gelar Sosialisasi Cuaca untuk Wisata Bahari Alor
- 16 Agt 2026 17:49 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Nautika Foundation mendorong masyarakat pesisir di Desa Alor Besar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, menjadikan informasi cuaca sebagai dasar sebelum melakukan aktivitas di laut. Upaya tersebut dilakukan melalui sosialisasi “Informasi Cuaca untuk Wisata yang Aman, Nyaman, dan Berkelanjutan” pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat “Sinergi Alor: Sinergi Pendidikan dan Teknologi dalam Pengelolaan Lingkungan dan Pariwisata” yang memadukan pengetahuan akademik, informasi cuaca, teknologi pemantauan dan pengalaman masyarakat pesisir untuk mendukung keselamatan serta keberlanjutan wisata bahari di Alor.
Sosialisasi diikuti masyarakat Desa Alor Besar dan perwakilan Unit Pelaksana Teknis Daerah. Turut hadir Direktur dan Pendiri Nautika Foundation Hansen Oei, Kepala UPTD Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan Laut Sekitarnya Augustinus Frumentius HB, S.Pi., serta Kepala Desa Alor Besar Sirahudin Ali.
Materi utama disampaikan Dr. Iwan Pramesti Anwar, S.Si., M.Si. dari ITB dan Akhmad Fahim, S.Si., M.Si. dari Direktorat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG. Peserta mendapat pemahaman mengenai kondisi cuaca yang perlu diperhatikan sebelum melakukan aktivitas di laut, mulai dari suhu, kelembapan, curah hujan, arah dan kecepatan angin hingga kondisi awan.
Pentingnya informasi tersebut ditekankan karena perubahan cuaca dapat meningkatkan risiko bagi masyarakat maupun wisatawan. Data BPBD Provinsi Nusa Tenggara Timur mencatat 136 kejadian bencana pada periode 1 Januari hingga 30 April 2026, dengan cuaca ekstrem menjadi jenis bencana yang paling banyak terjadi, yakni 64 kejadian.
Peserta juga dikenalkan dengan potensi bahaya berdasarkan karakter kawasan wisata. Kawasan pantai dan pulau menghadapi risiko gelombang tinggi, arus kuat dan angin kencang, sementara kawasan sungai dan air terjun dapat terdampak banjir bandang akibat hujan di bagian hulu. Kawasan perbukitan juga memiliki risiko kabut, jalan licin dan longsor.
Dalam aktivitas bahari, tinggi gelombang menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan sebelum menentukan kegiatan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pelayaran, snorkeling, diving, kayak maupun aktivitas permainan air.
Untuk memperoleh informasi tersebut, peserta dipandu menggunakan aplikasi InfoBMKG, khususnya menu Cuaca Maritim yang menyediakan informasi tinggi gelombang, kecepatan angin dan arus di Selat Alor. Peserta juga dikenalkan dengan situs maritim.bmkg.go.id, bmkg.go.id, aplikasi Sidarma serta layanan informasi BMKG melalui nomor 196.
Sesi diskusi kemudian memberi ruang bagi masyarakat untuk membagikan pengalaman ketika beraktivitas di laut, termasuk menghadapi perubahan kondisi cuaca yang berlangsung cepat. Masyarakat juga menyampaikan kekhawatiran mengenai kemungkinan El Nino dan dampaknya terhadap ketersediaan air serta aktivitas sehari-hari.
Menanggapi hal tersebut, Akhmad Fahim mengatakan masyarakat dapat melakukan langkah sederhana untuk menghadapi kondisi tersebut, salah satunya dengan menghemat penggunaan air dan memperkuat kepedulian antarwarga.
“Untuk menghadapi El Nino, kita bisa mulai untuk menghemat air serta saling membantu ketika ada kesulitan datang,” ucap Fahim.
Sementara itu, Dr. Iwan Pramesti Anwar mengatakan sosialisasi tersebut menjadi ruang belajar bersama antara perguruan tinggi dan masyarakat. Pengetahuan akademik dari kampus dipadukan dengan pengalaman masyarakat yang selama ini berinteraksi langsung dengan laut dan lingkungan Alor.
“Kegiatan ini menjadi ruang bagi kita untuk sama-sama belajar. Kami dari kampus membawa pengetahuan yang kami peroleh melalui pendidikan dan berbagai literatur, sementara bapak dan ibu membawa pengetahuan serta pengalaman yang diperoleh dari kehidupan sehari-hari dan interaksi langsung dengan lingkungan,” kata Iwan.
Dukungan teknologi dalam kegiatan tersebut diperkuat PT Samudra Sains Teknologi melalui Marine Automatic Weather System atau MAWAS. Perwakilan PT Samudra Sains Teknologi Filan Muhammad Kelvin, S.Si., menjelaskan perangkat tersebut dapat merekam suhu, kelembapan, arah dan kecepatan angin serta tinggi muka air untuk memberikan gambaran kondisi lingkungan secara lokal.
“Informasi-informasi tersebut sebenarnya hal-hal dasar yang dibutuhkan masyarakat pesisir jika akan beraktivitas dan merencanakan kegiatan di laut,” kata Filan.
Sementara itu, Program Manager Nautika Foundation Haris Sukandar mengatakan data dari teknologi pemantauan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bahan penelitian, tetapi dapat diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami dan digunakan masyarakat dalam menentukan aktivitas di laut.
“Harapannya pemanfaatan alat ini bisa melekat dengan kebutuhan masyarakat. Tidak hanya bagi kami yang meneliti informasinya, tetapi informasi itu bisa diterjemahkan ke masyarakat sehingga masyarakat lebih mudah memahami apa yang terjadi di laut,” kata Haris.
Melalui program Sinergi Alor, ITB, BMKG, Nautika Foundation, PT Samudra Sains Teknologi dan masyarakat membangun pemahaman bersama bahwa keselamatan aktivitas laut perlu dimulai dari kemampuan mengenali risiko, mengetahui informasi cuaca dan mengambil keputusan yang tepat.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendukung pengembangan wisata bahari Alor yang aman, nyaman dan berkelanjutan, dengan memadukan pengetahuan lokal, informasi resmi BMKG dan teknologi pemantauan kondisi cuaca serta perairan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....