Etnis Manggarai Tampilkan Tarian Caci Hipnotis Penonton di Parade Kebangsaan

  • 14 Agt 2026 18:17 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Ikatan Keluarga Manggarai Raya (IKMR) di Kabupaten Belu tampilkan tarian yang memukau dan menghipnotis penonton dalam Karnaval Kebangsaan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kamis 13 Agustus 2026.

Tidak hanya menampilkan Tarian Caci yang memukau penonton, rombongan juga mengenakan pakaian ada lengkap simbol identitas persatuan masyarakat Manggarai di tanah perantauan

Para perempuan mengenakan kain songke, kebaya, serta bali belo, yakni perhiasan atau aksesori adat yang menjadi bagian dari kelengkapan busana perempuan Manggarai.

Sementara laki-laki mengenakan kain songke dan perlengkapan adat khas Manggarai. Sementara empat orang laki-laki lengkap dengan atribut yang digunakan dalam pertunjukan Caci.

Rombongan juga membawa perlengkapan tradisional seperti nggiling atau perisai, larik atau cambuk, serta gong sebagai alat musik pengiring yang langsung disambut Bupati Belu Willybrodus Lay sekaligus ikut memperagakan tarian caci bersama IKMR.

Salah satu Tokoh IKMR Kabupaten Belu, Blasius Janggur, mengatakan pihaknya sengaja mengedepankan Tarian Caci untuk menunjukkan bahwa Manggarai merupakan satu kesatuan budaya, meskipun secara administratif telah terbagi menjadi tiga kabupaten.

“Kami mengedepankan kebersamaan bahwa Manggarai itu terdiri dari tiga kabupaten, Manggarai Raya, Kabupaten Manggarai Barat, dan Manggarai Timur,” ujar Blasius.

Blasius menjelaskan, Caci tidak sekadar pertunjukan tari. Di dalamnya terdapat seni, keterampilan, keberanian, ketangkasan, serta kemampuan bernyanyi.

“Makna daripada tarian Caci ini adalah mengedepankan bahwa dia menunjukkan seni. Seni keterampilan pribadi setiap orang, kemudian keterampilan menyanyi, dan keterampilan ketangkasan,” jelasnya.

Ia mengatakan, Caci dilakukan secara berpasangan atau satu lawan satu. Dalam tradisi tersebut, setiap pemain menunjukkan keberanian dan kelincahan melalui gerakan menyerang dan menghindar.

“Kalau istilah caci itu sendiri adalah 'ca' artinya satu dan 'ci' uji. Tidak boleh satu lawan dua, tetapi satu lawan satu atau uji ketangkasan satu lawan satu. Uji kejantanan di situ. Disitu juga ada uji kelincahan untuk menari serta uji kelincahan untuk bernyanyi,” ujar Blasius Janggur.

Atraksi tersebut tidak hanya melibatkan kaum laki-laki. Rombongan perempuan turut memperkuat tampilan budaya dengan mengenakan kebaya, kain songke, bali belo dan berbagai aksesori adat Manggarai.

Selain Caci, IKMR juga menampilkan Sae, yakni nyanyian tradisional Manggarai dengan membawakan lagu Pati Lingko.

Menurut Blasius, lagu tersebut memiliki makna penting bagi masyarakat Manggarai karena menggambarkan hubungan budaya yang tetap satu meskipun wilayah pemerintahan telah terbagi.

“Pati Lingko itu lagu yang sangat bermakna untuk Kabupaten Manggarai. Karena Manggarai sudah dibagi tiga, yaitu Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Tapi mulainya hanya satu. Hanya kita dipisahkan oleh wilayah atau sistem pemerintahan saja. Tapi budayanya satu, yaitu Caci dan pakaian adat kita tetap satu,” ucap Blasius Janggur.

Kehadiran IKMR dalam Karnaval HUT ke-81 RI juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan budaya Manggarai kepada masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL.

Blasius mengatakan, masyarakat Manggarai yang berada di Kabupaten Belu ingin menunjukkan bahwa meskipun hidup di tanah perantauan, hubungan budaya dan persaudaraan tetap terjaga

“Kita mewujudkan kebersamaan di tanah perantauan kita menunjukkan bahwa di daerah perbatasan itu bahwa orang Manggarai ada, orang Manggarai Barat ada dan orang Manggarai Timur ada. Makanya kita tunjukkan bahwa Tarian Caci inilah kami Manggarai,” kata Blasius Janggur.

Ia juga berharap momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak hanya dimaknai sebagai perayaan kemerdekaan, tetapi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk semakin mencintai, menjaga, dan melestarikan kekayaan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.

Menurutnya, keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang harus terus dirawat. Terlebih bagi masyarakat yang berada di wilayah perbatasan, pelestarian budaya dinilai penting untuk memperkuat identitas sekaligus menunjukkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dari berbagai daerah maupun negara tetangga. (KM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....