Siswa SDN Nunfutu 1 Belajar di Bangunan Darurat Memprihatinkan
- 03 Agt 2026 13:32 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Malaka - Siswa di SD Negeri Nunfutu 1 di desa Wekeke, Kecamatan Rinhat, Kabupaten Malaka terpaksa menggunakan bangunan darurat untuk bersekolah. kondisi bangunan darurat tersebut kini kian memprihatinkan, atap bolong tanpa dinding yang nyaris rubuh masih digunakan karena ruangan kelas yang memadai masih sangat terbatas di sekolah tersebut.
Menurut Maksimus Nahak Guru P3K sekaligus operator sekolah di SDN Nunfutu 1, bangunan darurat sudah digunakan selama kurang lebih satu tahun. Terdapat dua ruangan kelas yang digunakan oleh siswa kelas satu dan dua untuk belajar. Bangunan darurat ini dibangun pada tahun 2025 oleh para orang tua murid secara swadaya, atas permintaan pihak sekolah terkait ruang kelas satu dan dua yang belum tersedia.
"Ruangan darurat ini digunakan oleh kelas satu dan kelas dua. Untuk jumlah murid sekitar 26 siswa. Kelas satu sendiri yang ulang kelas 12 orang belum termasuk calon siswa baru yang belum diinput sekitar 12 juga total 24 siswa," kata Maksimus.
Sebenarnya, sebelum mendapat izin operasionalnya pada Agustus 2015 lalu, sekolah sekolah yang telah beroperasi sejak 2010 ini, telah memiliki satu unit gedung permanen yang diperoleh melalui program PNPM Mandiri. Gedung tersebut memiliki tiga ruangan, yang terdiri dari satu ruangan guru dan dua ruangan kelas serta satu unit toilet yang memadai.
Namun dua ruangan kelas tersebut berbanding terbalik dengan jumlah siswa yang kian meningkat tahun ke tahun yang terus berdatangan dari empat dusun sekitar untuk bersekolah. total siswa di SD N 1 Nunfutu 1 kini mencapai 68 siswa belum termasuk siswa baru.
Pihak sekolah kemudian berinisiatif membagi satu ruangan untuk dua rombongan belajar yang disekat menggunakan papan tulis bekas sebagai pembatas seadanya, guna memperbanyak ruangan.
"Karena memang kegiatan belajar mengajar (KBM) nya hanya menggunakan tiga ruangan di sana kemudian yang satu kami jadikan ruangan guru. Dan dua ruangan disekat menjadi empat ruangan kelas," ujar Maksimus.
Meski sudah membagi satu kelas untuk dua rombongan belajar, ruangan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan ruangan kelas tiga hingga enam.
Kendati demikian langkah tersebut menempatkan dua guru mengajar dua rombongan belajar dalam satu ruangan, selama ini justru dikeluhkan para guru. Menurut Maksimus langkah ini dinilai sangat mengganggu fokus guru dan siswa saat proses pembelajaran.
"Sekalipun itu guru profesional pun tapi jika dua guru mengajar dalam satu ruangan di waktu bersamaan pasti itu juga masih terganggu," ucap Maksimus.
Namun demikian cara tersebut tetap diambil agar siswa tidak ketinggalan jam pelajaran sekalipun di tengah keterbatasan ruangan.
Kondisi bangunan darurat kian memprihatinkan ketika situasi hujan, atap berlubang dan tanpa dinding ruangan kelas selalu berlumpur karena yang atap bocor, sehingga proses KBM dihentikan sementara waktu.
"Anak kelas satu dua ini kalau misalkan situasi hujan anak anak itu diarahkan ke ruang guru. Jadi kami semua guru dan siswa kelas satu dan dua berlindung di sana. Itu kalau hanya hujan saja kalau hujan angin otomatis kami tinggalkan ruangan guru karena kondisi tembok rawan rubuh," kata Maksimus.
Selain itu, satu satunya gedung utama sekolah tersebut kini sudah sangat rapuh. Banyak lantai kramik hingga kaca jendela pecah. Terdapat lubang besar dan retakan hampir ditemukan di seluruh sisi tembok bangunan, membuat gedung ini rawan ambruk sehingga sangat membahayakan keselamatan guru dan siswa saat aktivitas belajar mengajar berlangsung.
"Anak kelas satu dua ini kalau misalkan situasi hujan anak anak itu diarahkan ke ruang guru. Jadi kami semua guru dan siswa kelas satu dan dua berlindung di sana. Itu kalau hanya hujan saja kalau hujan angin otomatis kami tinggalkan ruangan guru karena kondisi tembok rawan rubuh," ujar Maksimus.
Kondisi ini sudah dilaporkan ke dinas terkait, sementara tahun ini juga telah diusulkan bantuan revitalisasi ruang kelas tersistem melalui aplikasi.
"Yang kami minta itu rehab satu bangunan yang ada. Kemudian di aplikasi itu juga kami minta UKS, Lab dan tiga ruang kelas baru lagi, dan MCK" ucap Maksimus.
Semua persyaratan telah telah diunggah melalui aplikasi namun masih terkendala sertifikat yang belum diterbitkan. "Kendala waktu itu kan, kaitannya dengan sertifikat tanah inisiatif dari masyarakat waktu itu, sudah dikumpulkan semua orangtua dan tokoh adat. Sudah dilakukan pengukuran oleh pihak Pertanahan dan Aset dan itu sudah dipatok pilar merah namun sampai hari ini sertifikat nya belum diproses," kata Maksimus Seran.
Menurutnya salah satu kendala sertifikat belum diterbitkan karena tanah lokasi sekolah tersebut berdiri masih terdeteksi wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Maria Tesa siswa kelas enam di SD Negeri Nunfutu 1, saat diwawancarai RRI mengungkapkan merasa senang belajar meski belajar di bangunan lama membuatnya khawatir, Kendati demikian ia menginginkan ruangan kelas bisa segera diperbaiki karena saat ini mereka harus berbagi ruangan dengan siswa kelas lima.
Sementara itu, salah satu guru P3K, Yohanes Seran Fahik juga merasa prihatin dan khawatir dengan kondisi bangunan tempatnya mengajar. Ia berharap bangunan sekolah ini bisa diperbaiki agar lebih layak untuk digunakan.
Hingga kini Pemerintah Kabupaten Malaka melalui dinas pendidikan telah turun langsung meninjau kondisi sekolah tersebut menanggapi pemberitaan yang beredar guna mencari solusi baik jangka pendek maupun panjang.
Para orang tua dan guru berharap bantuan revitalisasi serta usulan yang diusulkan melalui dinas Pendidikan Malaka dapat segera terealisasi tahun ini sehingga gedung sekolah lebih layak untuk menunjang kegiatan belajar siswa di wilayah pelosok perbatasan wilayah Kabupaten Malaka, TTS, dan TTU tersebut. (AS)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....