Jarak Kelahiran Ideal Bantu Wujudkan Generasi Sehat Bebas Stunting
- 31 Jul 2026 20:46 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) serta pengaturan jarak kelahiran menjadi langkah penting dalam mencegah stunting di Kabupaten Alor. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PP-KB) Kabupaten Alor menilai upaya tersebut harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Penata Kependudukan dan KB Dinas PP-KB Kabupaten Alor, Daniel Datu Koda, mengatakan masa 1.000 HPK merupakan periode emas pertumbuhan anak karena sebagian besar perkembangan otak terjadi pada rentang waktu tersebut. Oleh karena itu, pemenuhan gizi ibu hamil dan pemberian ASI eksklusif harus menjadi perhatian utama keluarga.
"Ketika kebutuhan gizi selama di dalam kandungan terpenuhi dengan baik, anak tidak akan mengalami stunting maupun kekurangan gizi. Masa emas dimulai sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun karena sekitar 80 persen perkembangan otak terjadi pada masa itu. Karena itu, bayi juga harus mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama," kata Daniel. Kamis 30 Juli 2026.
Selain pemenuhan gizi, Daniel menegaskan pentingnya mengatur jarak kelahiran minimal dua tahun. Menurutnya, jeda tersebut memberikan kesempatan bagi ibu untuk memulihkan kondisi kesehatan sekaligus merawat anak secara optimal sehingga kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak dapat terpenuhi.
"Kami menganjurkan agar seorang ibu memiliki jarak minimal dua tahun sebelum hamil atau melahirkan lagi. Dengan begitu, ibu memiliki waktu memulihkan kesehatannya, merawat bayi dengan baik, serta memenuhi kebutuhan gizinya. Pengaturan jarak kelahiran dapat dilakukan melalui penggunaan alat kontrasepsi yang tersedia," ujarnya.
Ia menambahkan, Tim Pendamping Keluarga (TPK) terus melakukan pendampingan terhadap calon pengantin, ibu hamil, dan keluarga yang berisiko stunting melalui pemeriksaan kesehatan, edukasi gizi, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan. Namun, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan jaringan internet dan kemampuan penggunaan teknologi di beberapa desa.
Daniel juga mengingatkan bahwa meski Kabupaten Alor memiliki potensi pangan lokal yang melimpah, kebutuhan ekonomi sering membuat masyarakat menjual hasil pangannya sehingga cadangan pangan keluarga berkurang. Menurutnya, pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga menjadi salah satu langkah penting dalam menekan angka stunting di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....