Pemkab TTU-Tua Adat Bikomi Lakukan Ritual adat Sambut Pesawat Kefa Air
- 15 Jul 2026 17:31 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Kefamenanu - Menjelang pendaratan perdana pesawat Cessna 208B Grand Caravan EX yang dioperasikan PT Yasa Air dengan Brand Kefa Air di Bandara Jack Ukat Sasi Kota Kefamenanu, maka Pemkab Timor Tengah Utara melakukan ritual adat pada Selasa 14 Juni 2026 di Bukit Batu Sasi. Ritual adat tersebut bertujuan untuk meminta restu dari para leluhur TTU khususnya Wilayah Bikomi sehingga penerbangan perdana sampai seterusnya lancar, tanpa kendala teknis, cuaca, dan kecelakaan.
Upacara adat diawali di landasan bandara Jack Ukat Sasi, diikuti Asisten I, Drs. Kristoforus Ukat, Asisten II Wilhelmus Meko, S.T, Asisten III, Drs. Thelymitro R Kapitan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Beato Yoseph Frent Omenu, S.ST Camat Kota Kefamenanu, Melkianus Kono, Bikomi Selatan, Plt Baperida Drs. Yohanes Sanak, Kabag Umum dan masyarakat Adat Bikomi yang terdiri dari suku Sanak, Bana, Atok, Lake.
Plh Sekda Kabupaten TTU, Trinimus Olin, S.Kom., M.T saat diwawancarai awak media menyampaikan bahwa Pemkab TTU dibawa komando Bupati Falent-Kamilus dimana filosofi Kota Kefamenanu itu merupakan kota Beradat. Sehingga kota beradat itu tidak sekedar akronim tetapi mengingatkan kita semua bahwa nilai-nilai adat terdahulu tetap dilestarikan sepanjang itu bermakna positif", ujar mantan Asisten 2 Setda TTU ini.
"Ritual adat yang dilakukan di Bukit Batu Sasi merupakan bentuk persiapan Pemkab TTU menyambut pendaratan perdana pesawat Kefa Air di Bandara Jack Ukat Sasi. Di samping itu kita berharap agar ada dukungan dari leluhur seluruh TTU supaya acara pendaratan perdana pesawat bisa berjalan secara baik dan lancar. Sehingga kita perlu meminta restu leluhur "nenek moyang tanah Bikomi" bahwa ada pembukaan jalur baru, maka tanah, udara, dan cuaca harus dijaga", kata Trinimus.
Inti dari ritual adat yang melibatkan tua adat dari Bikomi khususnya Raja Sanak dan rumput terkait karena bandara Jack Ukat Sasi berada di wilayah Bikomi. Kita memohon restu para leluhur supaya penerbangan perdana sampai seterusnya lancar, tanpa kendala teknis, cuaca, dan kecelakaan. Sebab ritual ini juga merupakan simbol bahwa pembangunan modern tidak melupakan adat", ujar Trinimus.
Dalam Ritual adat tersebut, Pemkab TTU dan Tua adat dari Bikomi memotong hewan (babi dan ayam). Darah dari hewan tersebut dipercikkan ke tanah sebagai tanda perjanjian dengan alam supaya ada restu.
Tokoh yang bertutur dalam ritual adat tersebut yakni Kamilus Sife, menyampaikan bahwa sebagai masyarakat Bikomi pihaknya mengapresiasi Bupati TTU, Yosep Falentinus Dellasale Kebo yang sangat menghargai adat sehingga sebelum ada pendaratan perdana pesawat Kefa Air mendahulukan adat. Ini menunjukan bahwa pembangunan tidak berjalan sendiri, tetapi meminta restu adat, sehingga warga tidak resah.
Ritual ini menunjukan bahwa Bupati TTU menjadi jembatan antara negara, masyarakat adat, dan investor/maskapai. Sehingga para tokoh adat Bikomi diminta restu supaya saat uji coba pendaratan perdana pesawat tidak ada hambatan ataupun bermacam-macam tantangan", kata Kamilus (SK).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....