Harga Kayu Mahal Berdampak pada Produksi Pengusaha Tahu di Belu

  • 24 Jun 2026 06:42 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kenaikan harga kayu bakar sebagai bahan bakar utama merebus atau menghasilkan uap dalam memproduksi tahu menjadi persoalan serius bagi para pengusaha.

Selain harus menghadapi mahalnya bahan baku kedelai, kini pelaku usaha juga dibebani dengan meningkatnya biaya produksi akibat lonjakan harga kayu yang digunakan sebagai bahan bakar utama.

Pengusaha tahu di Tala, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat Matilde Lae mengaku, kayu bakar merupakan kebutuhan vital dalam proses produksi tahu namun dengan kenaikan harga kayu yang cukup signifikan membuat biaya operasional ikut melonjak.

Matilde Lae menjelaskan untuk saat ini harga kayu bakar pertruk mencapai Rp400.000 rupiah, jauh berbeda dengan harga sebelumnya Rp300.000 rupiah.

“Kondisi saat ini memang harga kayu naik, saat ditanyakan kenapa naik, kebanyakan menjawab tambahan untuk biaya perjalanan, apalagi saat ini BBM naik terus, mau tidak mau tetap beli agar tidak gulung tikar,” ucap Matilde Lae pada Selasa 23 Juni 2026.

Sambungnya, kondisi ini memaksa untuk mencari cara agar usaha tetap berjalan. Namun, pilihan yang tersedia cukup terbatas, mulai dari mengurangi volume produksi hingga menaikkan harga jual tahu, yang berisiko menurunkan daya beli masyarakat sehingga belum mendapatkan solusi yang tepat.

“Harga kayu naik, kedelai juga mahal. Kalau tidak disiasati, sangat menyulitkan kami sebagai pengusaha, sekarang kita hanya sistem bertahan saja,” ujar Matilde Lae.

Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, baik melalui pengendalian harga bahan baku maupun dukungan solusi energi alternatif yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Menurutnya juga dengan tekanan biaya yang terus meningkat, pengusaha tahu di Belu kini dituntut untuk lebih kreatif dan adaptif agar tetap bertahan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.(KM)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....