Ijon Memberatkan Kerja Petani di Belu Hasil Sebatas Bertahan Hidup

  • 11 Jun 2026 15:42 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Praktek ijon membeli gabah petani dengan harga murah masih terus terjadi di Kabupaten Belu.

Praktek tersebut dijalankan oleh para tengkulak pemilik modal besar dengan tujuan memperoleh untung besar dari hasil panen petani

Warga tani tidak bisa berbuat banyak dikarenakan sebelumnya sudah terjerat pinjaman uang dan harus mengembalikan dengan hasil panen.

Warga tani kelurahan Tulamalae Kabupaten Belu Marten kepada rri.co.id saat ditemui Rabu 9 Juni 2026 mengatakan, sistem ijon memberatkan petani.

Ia mengatakan, bagi yang empunya lahan bisa mengusahakan agar memperoleh hasil panen, sehingga tidak lagi membeli beras di toko.

Kendati demikian menjadi kendala seringkali diperhadapkan kesulitan uang saat musim tanam. Terpaksa terdapat petani harus meminjam uang dengan perjanjian mengembalikan selepas panen.

"Tujuan kita menanam supaya jangan beli beras lagi hanya untuk makan karena beras mulai. Mahal. Hanya kendala sebagian panen harus ditebus utang karena pinjam uang dengan membayar gabah," kata Marten.

Para rentenir ini menjalankan aksinya saat musim tanam tiba. Mengetahui betul warga tani membutuhkan biaya untuk aktifitas di lahan garapan. Mau tidak mau meminjamkan uang ke rentenir dengan bunga pengembalian berupa hasil panen. Harga pembelian pun di bawah harga layak.

"Mau tidak mau ada yang terjerat utang karena sudah pinjam duluan. Palingan gabah kita jual Rp3 ribu per kilo rugi, apalagi beras mulai mahal," ucapnya.

Pemerintah melalui Badan Urusan Logistik Bulog membeli gabah petani sesuai ketentuan per kilo Rp 6 ribu rupiah sementara untuk para tengkulak palingan Rp3 ribu per kilo gabah kering panen. Warga tani pun tidak memperoleh untung.

Cukup memberatkan usaha tani. Kerja keras petani semata mata hanya untuk bertahan hidup tidak untuk kemandirian ekonomi dikarenakan harus membayar.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....