Jurnalis Diminta Tetap Profesional di tengah Gempuran Media Sosial

  • 30 Apr 2026 14:32 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Alor - Ketua Perhimpunan Jurnalis Alor, Linus Kia, menyoroti tantangan besar dunia jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital yang dipengaruhi media sosial dan algoritma. Ia menilai fenomena tersebut telah mengubah cara masyarakat mengonsumsi informasi, sekaligus memunculkan risiko penyebaran hoaks yang semakin masif.

Menurutnya, saat ini banyak pihak berlomba-lomba mengejar perhatian publik dengan berbagai cara, bahkan tanpa mempertimbangkan kebenaran informasi. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat jika tidak diimbangi dengan peran jurnalis yang profesional.

Linus menegaskan bahwa jurnalis memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi. Peran jurnalis tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga meluruskan informasi yang keliru melalui proses verifikasi yang ketat.

“Saya sempat tertegur, bahwa di era sekarang di tengah gempuran media sosial dan hoaks, algoritma seperti menjadi ‘agama baru’. Semua orang berlomba mengejar perhatian hingga menghalalkan berbagai cara dalam menyebarkan informasi,” ujarnya. Rabu, 29 April 2026.

Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan nyata bagi jurnalis untuk tetap menjaga integritas. Jurnalis profesional, kata dia, tidak boleh serta-merta menjadikan informasi dari media sosial atau konten kreator sebagai rujukan tanpa melalui proses pengecekan.

“Media dan jurnalis profesional tidak lantas menjadikan informasi dari konten kreator sebagai rujukan. Harus ada verifikasi, recheck, dan pengujian kebenaran. Walaupun mungkin lebih lambat, tetapi informasi yang disampaikan harus lebih mendalam dan akurat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Linus menjelaskan bahwa jurnalisme profesional harus mengedepankan pendalaman dan investigasi. Hal ini menjadi pembeda utama dengan konten kreator yang cenderung mengejar kecepatan dan sensasi untuk menarik perhatian publik.

Di tengah kemajuan teknologi, termasuk kehadiran kecerdasan buatan (AI), ia mengakui bahwa produksi konten menjadi semakin mudah dan cepat. Namun demikian, jurnalis tetap memiliki keunggulan dalam hal analisis, pendalaman, dan kemampuan memahami konteks secara lebih utuh.

Ia juga mengingatkan pentingnya etika dalam praktik jurnalistik, terutama dalam pemilihan diksi dan penyajian berita. Judul sensasional atau provokatif, menurutnya, dapat memicu kesalahpahaman bahkan konflik di masyarakat jika tidak disampaikan secara hati-hati.

Karena itu, Linus berharap jurnalis tetap menjaga independensi dan tidak terjebak dalam arus mengejar popularitas semata. Dengan menjunjung tinggi kode etik dan memperkuat kualitas pemberitaan, jurnalis diharapkan mampu menjadi sumber informasi yang terpercaya serta menjaga stabilitas informasi di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....