Ketua Pijar Alor Tegaskan Perbedaan Jurnalis dan Konten Kreator di Era Digital
- 30 Apr 2026 14:20 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Alor - Ketua Perhimpunan Jurnalis Alor, Linus Kia, menegaskan bahwa jurnalis harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era digital tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik. Menurutnya, perubahan lanskap media saat ini menuntut insan pers untuk tidak lagi bekerja secara konvensional, melainkan menguasai teknologi informasi agar tetap relevan.
Ia menjelaskan, perbedaan mendasar antara jurnalis dan konten kreator terletak pada proses dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Jurnalis bekerja berdasarkan kaidah, verifikasi, dan kode etik, sementara konten kreator cenderung mengandalkan kecepatan dan daya tarik konten untuk mengejar perhatian publik.
Dalam era banjir informasi seperti sekarang, tantangan terbesar bagi jurnalis adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi. Kehadiran media sosial, jurnalisme warga, serta kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan membuat arus informasi semakin cepat, bahkan sering kali melampaui kerja-kerja jurnalistik profesional.
“Jurnalis tidak boleh tertinggal. Harus bisa menguasai IT dan teknologi di era digital. Kita tidak lagi berada pada era jurnalis konvensional yang hanya merekam, menulis, lalu mempublikasikan. Jika masih seperti itu, kita akan terlambat,” ujar Linus Kia. Rabu, 29 April 2026.
Ia menambahkan, teknologi saat ini memungkinkan siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi dengan cepat, bahkan tanpa proses penulisan manual. Namun, kondisi tersebut justru mempertegas peran jurnalis sebagai pihak yang melakukan verifikasi dan memastikan kebenaran informasi sebelum dipublikasikan.
Menurutnya, perbedaan antara jurnalis dan konten kreator harus tetap dijaga agar fungsi media sebagai penyampai informasi yang akurat dan edukatif tidak hilang. Jurnalis dituntut untuk menjadi filter atas berbagai informasi yang beredar, bukan sekadar ikut dalam arus kecepatan tanpa pertimbangan.
“Jurnalis harus tetap berpegang pada kode etik, melakukan verifikasi, dan menjaga akurasi. Berbeda dengan konten kreator yang sering mengejar kecepatan dan viewer, jurnalis harus mampu menjadi filter informasi agar tidak terjadi penyebaran hoaks di masyarakat,” tegasnya.
Linus juga mengingatkan bahaya praktik clickbait yang kerap muncul akibat tekanan mengejar algoritma di media digital. Judul yang sensasional namun tidak sesuai isi dapat merusak kepercayaan publik terhadap media dan mengaburkan fungsi edukasi dalam pemberitaan.
Ia berharap generasi muda yang ingin terjun ke dunia jurnalistik dapat mempersiapkan diri dengan baik, mulai dari kemampuan menulis, wawasan luas, hingga penguasaan teknologi. Dengan demikian, jurnalis tetap mampu menjaga kredibilitas di tengah derasnya arus informasi digital dan menjalankan perannya sebagai penjernih informasi bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....