Harapan MBG Buka Peluang Pasar Petani Belu

  • 22 Apr 2026 21:17 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Program Makan Bergizi Gratis, semoga membuka peluang pasar bagi petani di Belu, sebab dengan adanya program ini petani berharap tidak lagi terbentur dengan persoalan pemasaran komoditas usaha pertanian mereka.

Hal menjadi harapan Yulius Manek, petani cabai merah besar dan cabai hijau besar di Dusun Leoruas, RT 03 RW 02, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat (TASBAR) Kabupaten Belu-NTT.

"Satu minggu lagi prediksi kami sudah panen, puji Tuhan tujuan pasarnya SPPG di Tasbar ini kebetulan sudah ada sehingga kami coba tawarkan kesana, semoga penuhi standar BGN untuk MBG," katanya saat ditemui rri.co.id, Rabu 22 April 2026.

Tanaman Cabai Merah Besar milik Yulius Manek Petani asal Kecamatan Tasbar yang kini menunggu panen (Foto: Dok/RRI Atambua/Epi Mau)

Yulius mengatakan program MBG sangat menjanjikan dan berkelanjutan bagi petani lokal sepertinya. Sehingga dirinya berupaya untuk memenuhi standar permintaan untuk memenuhi kebutuhan MBG di wilayah Kecamatan Tempatnya berdomisili.

Dirinya telah mencoba berbagai komoditas hortikultura sejak 5 tahun terkahir namun lebih tertarik budidaya cabai merah besar dan cabai hijau besar karena perawatan yang mudah menurutnya.

Menurutnya, jika harga cabai merah besar dipasaran saat ini berada di atas 50 ribu rupiah per kilogram, maka potensi pendapatannya pada saat panen bisa mencapai lebih dari Rp.80 juta juta rupiah.

Yulius pada kesempatan yang sama menambahkan bahwa ia memilih tidak menerima panjar sebelum panen. "Saya pernah beberapa kali didatangi pengepul, dia mau panjar 20 juta rupiah, tapi saya tidak mau karena jatuhnya rugi, itu sistem ijon yang buat petani sengsara."

Ia menjelaskan bahwa tanaman cabai yang dikelola sudah memasuki usia tiga bulan dan sepuluh hari, sehingga menurutnya saat ini sudah sangat mendekati masa panen.

Yulius Manek saat ditemui rri.co.id di lokasi kebunnya (Foto: Dok/RRI Atambua/Epi Mau)

“Semoga hasil kami dibeli, jangan dari luar daerah, karena begitu harapan Pak Presiden Prabowo. Ini sudah tiga bulan tanam, target panen tiga bulan sepuluh hari, artinya sudah dekat panen,” ujar Yulius Manek saat ditemui langsung di kebunnya.

Ia menyebutkan luas lahan yang dikelola sekitar panjang lima puluh lima meter dan lebar tiga puluh enam meter, dengan total modal awal mencapai sembilan juta rupiah.

"Hasil bertani untuk biaya anak kuliah, anak sulung saya sekarang di Universitas Muhammadyah Kupang sudah semester enam, sisanya saya pakai buka kios kecil di rumah untuk kebutuhan harian," tuturnya.

Ia menjelaskan tantangan utama dalam budidaya cabai adalah serangan lalat buah, yang diatasi menggunakan beberapa jenis pestisida dengan metode penyemprotan terukur.

“Selain itu kami susah sekali untuk pasarkan kalau hanya di Atambua saja, karena harga akan digoreng habis sama pengepul, tapi dengan MBG ini semoga hasil kami bisa dilirik pengelola atau SPPG,” katanya.

Yulius berharap semoga dengan berjalannya program MBG diwilayah tempat tinggalnya dapat menjadi pasar tetap baginya dan petani lain, sehingga meningkatkan semangat kerja dan kepastian penjualan hasil pertanian di wilayah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....