Sektor Pendidikan Peranan Penting Menyiapkan SDM Perbatasan yang Unggul
- 13 Agt 2026 15:03 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Belu, Aloysius Fahik, mengingatkan masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Timor-Leste agar tidak menjadi penonton di rumah sendiri akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurut Aloysius, masyarakat Belu, khususnya generasi muda sebagai penerus bangsa, harus dipersiapkan agar mampu mengambil bagian dalam berbagai peluang pembangunan dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang di kawasan perbatasan.
Ia menegaskan, rendahnya kualitas SDM dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat kemajuan daerah. Karena itu, pendidikan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam mempersiapkan generasi muda yang cerdas, terampil, berkarakter, dan mampu bersaing.
“Jangan sampai anak-anak perbatasan Kabupaten Belu sebagai generasi penerus bangsa, dikarenakan SDM rendah, pada akhirnya hanya sebagai penonton di rumah sendiri,” kata Aloysius Fahik di Atambua, Kamis 13 agustus 2026.
Aloysius menjelaskan, Kabupaten Belu memiliki posisi strategis sebagai wilayah yang berada di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste.
Posisi tersebut, menurut dia, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan, terutama pembangunan manusia.
Sebagai daerah perbatasan yang menjadi salah satu wajah Indonesia di hadapan negara tetangga, pembangunan tidak cukup hanya dilakukan melalui infrastruktur. Sumber daya manusia harus menjadi bagian yang pertama dan utama untuk diperkuat.
“Manusia harus bagus, memiliki sikap mental, moral yang baik, dan pendidikan bagian dari menyiapkan yang bagus-bagus itu,” ujarnya.
Ia mengatakan, pembangunan kawasan perbatasan memang membutuhkan dukungan dari berbagai sektor. Namun, pendidikan memiliki peranan yang sangat vital karena menjadi dasar dalam membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, serta kemampuan menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, anak-anak di wilayah perbatasan harus dibekali ilmu pengetahuan sekaligus karakter yang baik agar mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan berbagai perubahan serta hal-hal baru yang datang.
“Anak-anak cerdas, ilmu pengetahuan, karakter yang baik, bisa berinteraksi, beradaptasi dengan hal-hal baru yang datang,” katanya.
Aloysius menambahkan, Kabupaten Belu sebagai daerah perbatasan memiliki aktivitas yang cukup dinamis di berbagai sektor. Mobilitas masyarakat, termasuk kunjungan dari negara tetangga Timor-Leste, turut membuka peluang bagi masyarakat setempat.
Berbagai aktivitas dan peluang usaha yang muncul di kawasan perbatasan tersebut, kata dia, harus dapat direspons secara baik oleh masyarakat Belu.
Karena itu, generasi muda perlu disiapkan agar tidak hanya menjadi penonton terhadap perkembangan daerah, tetapi mampu menjadi pelaku sekaligus mengambil manfaat dari berbagai peluang yang tersedia.
“Pendidikan, kewirausahaan, pariwisata, ekonomi kreatif itu semua harus disiapkan. Ujungnya sumber daya manusia harus bagus. Kalau tidak, tetap susah berkembang daerah dan masyarakat perbatasan,” tegasnya.
Ia menilai, pengembangan sektor pendidikan harus berjalan beriringan dengan penguatan kewirausahaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, anak-anak dan generasi muda Belu memiliki pilihan dan kemampuan untuk berkontribusi sesuai potensi yang dimiliki.
Aloysius menekankan pentingnya menyiapkan generasi muda yang cerdas, terampil, memiliki karakter, serta mampu bersaing. Hal tersebut dinilai menjadi salah satu kunci agar masyarakat lokal dapat mengambil peran dalam pembangunan kawasan perbatasan.
Menurutnya, kualitas SDM yang baik akan memberikan ruang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha, menciptakan lapangan kerja, serta memanfaatkan potensi daerah.
Sebaliknya, jika kualitas SDM tidak dipersiapkan dengan baik, berbagai peluang yang muncul di wilayah perbatasan dikhawatirkan justru lebih banyak dimanfaatkan oleh pihak dari luar daerah.
Karena itu, menyiapkan generasi muda merupakan pekerjaan rumah bersama. Pemerintah, orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam memberikan bekal pendidikan yang lebih baik kepada anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
“Menyiapkan generasi yang cerdas dan terampil serta mampu bersaing menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap perhatian terhadap pendidikan di wilayah perbatasan terus diperkuat sehingga anak-anak Belu memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi masa depan.
Dengan SDM yang berkualitas, masyarakat Belu diharapkan tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan kawasan perbatasan, tetapi mampu menjadi pelaku utama yang menggerakkan pembangunan dan memanfaatkan berbagai peluang di daerah sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....