Kecerdasan Buatan "AI" Itu Peluang, Bukan Ancaman bagi Seniman

  • 31 Mei 2026 16:43 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini mulai merambah sektor seni tradisional Indonesia. Teknologi canggih ini memicu kekhawatiran sekaligus harapan baru bagi pelestarian budaya lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Putra Budaya Indonesia-NTT 2025, Dionis D. Kevianto Suwandi, menyatakan bahwa kehadiran teknologi digital ini berkembang dengan sangat cepat. Fenomena tersebut melahirkan perasaan kagum sekaligus kekhawatiran mendalam bagi para seniman tradisional di daerah.

"Di sini saya merasakan dua hal sekaligus di mana saya kagum dan khawatir," ujar Kevin, sapaannya, saat dikonfirmasi RRI Minggu, 31 Mei 2026. Ia merasa kagum karena teknologi berkembang luar biasa, namun khawatir terhadap masa depan karya musik tradisional.

Dionis D. Kevianto Suwandi, Putra Budaya Indonesia-NTT 2025. (Foto: Dok. Dionis D. Kevianto Suwandi)

Meski demikian, Kevin menilai kecerdasan buatan sebetulnya bukanlah musuh yang harus ditakuti oleh para seniman. Baginya, teknologi canggih tersebut hanyalah sebuah alat bantu manusia seperti halnya sebuah pisau dapur.

"AI hanyalah alat, sama seperti pisau yang semuanya itu tergantung siapa yang memegangnya," kata Kevin menjelaskan. Jika digunakan dengan tepat, teknologi ini justru menjadi peluang besar untuk mempromosikan budaya daerah.

Menurutnya, selama ini banyak karya tenun tradisional dan musik lokal NTT yang belum dikenal luas masyarakat. Kehadiran teknologi digital dapat membantu mempromosikan karya-karya tersebut hingga ke tingkat internasional.

Masyarakat diminta tidak perlu memelihara ketakutan berlebih terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan saat ini. Hal terpenting adalah memastikan manusia tetap menjadi pusat kreativitas dalam menciptakan karya seni tradisional.

"Teknologi dapat mempercepat pekerjaan tapi teknologi tidak bisa menggantikan nilai kemanusiaan," ucap Kevin tegas. Nilai kemanusiaan dan spiritualitas di dalam budaya lokal tetap tidak akan bisa digantikan AI.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....