Kananuk Warisan Sastra Lisan Malaka-NTT
- 04 Mei 2026 17:50 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Kananuk bagian dari kekayaan budaya tak benda (Intangible Cultural Heritage), berupa sastra lisan tradisional masyarakat wilayah Kabupaten Malaka di NTT pada umumnya. Kananuk merupakan rangkaian kata-kata yang mencerminkan suara bumi dan kearifan leluhur.
“Kalau kata Kananuk di Malaka, jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu tidak lain berarti pantun. Tapi kami biasa pakai bahasa ibu atau bahasa tetun.” Menurut Benyamin Tae Nahak, Anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara asal Kabupaten Malaka -NTT kepada rri.co.id, Senin 4 Mei 2026.
Disampaikan Benyamin Tae Nahak, Kananuk bukan hanya sekadar rangkaian kata indah dalam prosa, rima atau puisi, modern. Namun Kananuk sarat akan kandungan nilai adat, nasihat, dan bahkan identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut Benyamin jika dilihat dari jenisnya Kananuk terbagi menjadi dua golongan besar. “Jenisnya banyak, tapi garis besarnya ada dua diantaranya Kananuk Ai Tahan, atau Pantun biasa, ada juga Kananuk Rai Lian atau ungkapan adat yang disakralkan,” katanya.
Lanjut Benyamin Tae Nahak, dari jenis yang ada, dan sesuai peruntukannya, hanya Kananuk Ai Tahan dapat dituturkan oleh masyarakat umum. “Kalau Kananuk Rai Lian itu hanya para tetua atau pemangku adatlah yang boleh lantunkan, karena kami sakralkan itu.” ujarnya.
Kananuk Rai Lian lazim di tuturkan pada hajatan penting, diantaranya seperti pada saat syukuran panen atau dalam bahasa lokal disebut “Hamis”. Sementara untuk jenis yang disebut Ai Tahan dapat dilafalkan kapan saja dan dimana saja bahkan sebagai pembuka perbincangan.
“Besikama sia taka tudik la taka, Tudik la taka rai Besikama la taka, Artinya, boleh tutup semua jalan pulang, tetapi seperti pisau dan sarung, dia punya isi sampai di mana-mana, tapi sarungnya tetap di rumah adat, suatu saat dia akan kembali kepada habitat,” katanya.
Penggalan Kananuk yang sampaikan Benyamin Tae Nahak ini secara harafiah berarti kemanapun orang Besikama pergi suatu saat akan kembali ke asalnya dan kampung dimaksud akan selalu ada.
"Kami di Malaka Barat, khususnya di Tafatik (Kompleks Istana) Besikama, dan Lasaen masih menjaga kananuk dengan penuturan dalam keseharian. Tapi tidak tau kalau diluar wilayah ini, kita khawatir penuturnya akan hilang karena tidak dibiasakan," tuturnya.
Dirinya memiliki kegelisahan tersendiri soal Kananuk, yang karenanya orang Malaka dahulu dikenal sangat puitis dalam bertutur. Namun kini penutur sastra lisan ini kian berkurang bahkan terancam punah jika kaum muda tidak berniat belajar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....