Rahasia Mendalam di Balik Tradisi Belis bagi Perempuan Belu

  • 24 Apr 2026 15:19 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Budayawan Belu, Pius Fahik, mengatakan bahwa tradisi belis adalah simbol penghormatan terhadap rahim. "Saya prihatin karena generasi sekarang mulai mengabaikan kesucian rahim seorang perempuan," ujarnya kepada rri.co.id, Kamis, 24 April 2026.

Leluhur orang Belu sangat menghargai perempuan dan tidak pernah melakukan tawar-menawar. Nilai belis yang diberikan merupakan bentuk penghormatan tinggi terhadap martabat kaum ibu.

Banyak orang salah paham dan menganggap belis sebagai biaya pengganti air susu ibu. Padahal, makna sebenarnya adalah menghargai proses perkembangan manusia yang hanya terjadi di dalam rahim perempuan.

Pius menjelaskan bahwa manusia hanya bisa berkembang biak melalui rahim seorang ibu. Itulah alasan utama mengapa leluhur mewariskan tradisi belis kepada seluruh masyarakat Belu.

Sangat tidak mungkin seorang laki-laki mengambil anak perempuan orang lain tanpa sebuah penghargaan. Orang tua telah berkorban besar untuk membesarkan anak perempuan mereka hingga usia dewasa.

"Belis mencerminkan status sosial yang sudah diatur sejak zaman para raja," ucap Pius. Terdapat tingkatan khusus bagi kaum bangsawan, feto, dato, hingga seluruh rakyat biasa.

Ukuran belis bagi kaum bangsawan biasanya menggunakan hitungan angka tujuh yang sakral. Sementara itu, untuk masyarakat umum lainnya menggunakan hitungan angka lima atau tiga.

Pihak keluarga tidak akan pernah mundur karena hal ini menyangkut kehormatan rahim perempuan. Masyarakat harus terus menjunjung tinggi nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur, tegas Pius. Mendalam di Balik Tradisi Belis bagi Perempuan Belu

RRI.CO.ID, Atambua – Budayawan Belu, Pius Fahik, mengatakan bahwa tradisi belis adalah simbol penghormatan terhadap rahim. "Saya prihatin karena generasi sekarang mulai mengabaikan kesucian rahim seorang perempuan," ujarnya kepada rri.co.id.

Leluhur orang Belu sangat menghargai perempuan dan tidak pernah melakukan tawar-menawar. Nilai belis yang diberikan merupakan bentuk penghormatan tinggi terhadap martabat kaum ibu.

Banyak orang salah paham dan menganggap belis sebagai biaya pengganti air susu ibu. Padahal, makna sebenarnya adalah menghargai proses perkembangan manusia yang hanya terjadi di dalam rahim perempuan.

Pius menjelaskan bahwa manusia hanya bisa berkembang biak melalui rahim seorang ibu. Itulah alasan utama mengapa leluhur mewariskan tradisi belis kepada seluruh masyarakat Belu.

Sangat tidak mungkin seorang laki-laki mengambil anak perempuan orang lain tanpa sebuah penghargaan. Orang tua telah berkorban besar untuk membesarkan anak perempuan mereka hingga usia dewasa.

"Belis mencerminkan status sosial yang sudah diatur sejak zaman para raja," ucap Pius. Terdapat tingkatan khusus bagi kaum bangsawan, feto, dato, hingga seluruh rakyat biasa.

" Ukuran belis bagi kaum bangsawan biasanya menggunakan hitungan angka tujuh yang sakral," ujarnya. "Sementara itu, untuk masyarakat umum lainnya menggunakan hitungan angka lima atau tiga."

Pihak keluarga tidak akan pernah mundur karena hal ini menyangkut kehormatan rahim perempuan. "Masyarakat harus terus menjunjung tinggi nilai luhur yang telah diwariskan oleh leluhur," ucap Pius tegas.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....