Tradisi Belis Wanita Belu Bukan Jual Beli Martabat Perempuan
- 23 Apr 2026 14:38 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Banyak orang salah paham mengganggap tradisi belis sebagai praktik jual beli perempuan Belu. Padahal, warisan leluhur ini sebenarnya merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap rahim seorang ibu.
Pius Fahik, budayawan Belu mengungkapkn hal ini pada sesi podcast RRI Atambua, Kamis, 23 April 2026. "Belis itu sesungguhnya bukan masalah jual beli, melainkan tradisi penghargaan terhadap rahim perempuan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa persepsi negatif masyarakat selama ini sangatlah keliru. Leluhur memandang perempuan sebagai pejuang sejati yang bertaruh nyawa sendirian saat proses melahirkan.
Perempuan menghadapi maut tanpa bantuan fisik orang lain demi memberikan kehidupan baru bagi manusia. Perjuangan tersebut dianggap jauh lebih berat dibandingkan dengan laki-laki yang pergi menuju medan perang.
"Laki-laki masih memiliki teman saat bertempur, sementara perempuan berjuang sendirian melawan kematian itu," katanya. Pius menjelaskan bahwa pesan moran ini tidak tertulis sehingga banyak generasi muda mulai melupakannya.
Aktivitas harian masyarakat zaman dahulu sebenarnya penuh dengan makna mendalam tentang nilai-nilai kehidupan manusia. Pius memberi analogi sebuah kebun yang ditanami berbagai tanam pangan untuk menghidupi banyak orang.
Menurutnya, rahim perempuan juga diibaratkan lahan suci yang melahirkan anak laki-laki dan juga anak perempuan. "Belis wajib ada bagi masyarakat Belu sebagai bentuk penghormatan nyata terhadap rahim sang perempuan," ujar Pius tegas.
Ia menilai, laki-laki memang tidak memiliki rahim sehingga fokus penghargaan adat diberikan khusus bagi kaum perempuan. "Semangat menghargai martabat perempuan inilah yang harus terus dijaga oleh seluruh generasi muda belu," ucap Pius berharap.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....