Besaran Biaya Listrik Bergantung pada Pola Konsumsi
- 21 Sep 2026 10:17 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Konsultan Energi Terbarukan dari Rejaton Indonesia, Mohammad Ghadafi mengatakan besaran biaya penggunaan listrik sangat bergantung pada pola konsumsi rumah tangga. Menurutnya, kebiasaan penggunaan listrik pada siang dan malam hari menentukan komposisi panel surya serta kapasitas baterai yang diperlukan.
“Kalau konsumsi listrik lebih banyak malam, panelnya mungkin sedikit, tetapi baterainya harus ditambah untuk memenuhi kebutuhan daya cadangan,” ujar Ghadafi kepada rri.co.id, Kamis 17 September 2026. Ia menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena panel surya tidak menghasilkan listrik dari radiasi matahari ketika malam sudah tiba.
Pemasangan PLTS rumah tangga berkapasitas 2.000 Watt membutuhkan biaya sekitar Rp60 juta hingga Rp70 juta. Biaya tersebut sudah mencakup panel surya, baterai, material pendukung, pemasangan, akomodasi, serta instalasi sistem hingga siap digunakan.
Ghadafi mencontohkan rumah tangga yang menghabiskan sekitar Rp100 ribu listrik, tetapi Rp70 ribu penggunaannya berlangsung pada malam hari. Sementara sekitar Rp30 ribu digunakan pagi hingga siang, sehingga sistem PLTS membutuhkan kapasitas baterai lebih besar untuk konsumsi malam.
Sebaliknya, kebutuhan baterai dapat lebih ringan apabila penggunaan listrik rumah tangga berlangsung relatif seimbang sepanjang siang dan malam. Kondisi tersebut menurut Ghadafi memungkinkan panel surya bekerja langsung memenuhi konsumsi listrik ketika matahari masih tersedia.
Selain kapasitas sistem, pemilik rumah juga perlu memperhatikan lokasi pemasangan panel agar terbebas dari gangguan bayangan bangunan atau pepohonan. “Harus dipastikan atapnya minim dari gangguan bayangan, karena panel akan terganggu produksinya ketika tertutup gedung atau pohon,” tutur Ghadafi.
Ia menerangkan bayangan dapat mengurangi produksi listrik karena panel tidak menerima radiasi matahari secara langsung sebagaimana kondisi terbuka. Meski masih terdapat radiasi matahari yang terserap, produksi energi tidak akan optimal ketika permukaan panel tertutup bayangan.
Untuk sistem rumah tangga berkapasitas 2.000 Watt, Ghadafi memberikan gambaran menggunakan baterai berkapasitas sekitar 3.000 Watt sebagai standar kebutuhan malam.
Dengan konfigurasi tersebut, panel surya berkapasitas 2.000 Watt dipadukan baterai 3.000 Watt untuk mendukung konsumsi ketika matahari tidak tersedia.
“Untuk angka 2.000 Watt dengan standar baterainya 3 KW dan panelnya 2.000, kisarannya Rp60 juta sampai Rp70 juta,” kata Ghadafi. Biaya tersebut merupakan estimasi terima jadi, mencakup pemasangan, akomodasi sistem, instalasi lapangan, serta kebutuhan material pendukung lainnya.
Ghadafi menambahkan harga baterai lithium menjadi salah satu komponen yang membuat biaya investasi PLTS relatif fluktuatif dibandingkan komponen lainnya. Menurutnya, perkembangan baterai kendaraan listrik juga menunjukkan bahwa penggantian baterai dapat membutuhkan biaya besar seperti membeli kendaraan baru.
“Untuk baterai memang relatif dari angka dan pembiayaan, karena harganya cenderung naik terus seperti itu,” ucap Ghadafi. Karena itu, kebutuhan dan pola konsumsi listrik perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum menentukan kapasitas panel serta baterai yang digunakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....