Cerita, Reputasi Dibalik Tenun Menentukan Harga

  • 05 Jul 2026 13:23 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Cerita atau Storytelling dari selembar kain atau sebuah produk turut menentukan harga serta nilai jualnya di pasar. Hal ini terutama terlihat pada produk tenun yang memiliki kekuatan cerita, sejarah, serta reputasi yang melekat kuat.

Informasi tersebut disampaikan Randy Valentino Neonbeni,SH.,M.Kn, Koordinator divisi Pengawasan Mutu Produk dan Pelabelan MPIG Tenun yang juga Dosen STIH Cendana Wangi TTU kepada rri.co.id, Jumat 3 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa dalam konteks tenun, storytelling menjadi bagian penting dalam penilaian indikasi geografis.

Menurutnya, indikasi geografis tidak hanya menilai kualitas produk semata tetapi juga mempertimbangkan reputasi yang dibangun dari waktu ke waktu. Reputasi tersebut mencakup sejauh mana tenun dipasarkan serta siapa saja pihak yang pernah menggunakan produk tersebut dalam berbagai kesempatan resmi.

“Kalau kita berbicara tenun ya, indikasi geografis, story itu menjadi dasar dalam penentuan karena salah satu aspek penilainya adalah reputasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa reputasi terbentuk dari perjalanan produk, termasuk siapa pengguna serta wilayah penyebaran produk tersebut.

Randy Valentino Neonbeni,SH.,M.Kn, Koordinator divisi Pengawasan Mutu Produk dan Pelabelan MPIG Tenun yang juga Dosen STIH Cendana Wangi TTU (Foto:Dok.Randy Neonbeni))

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam budaya masyarakat timur, tenun memiliki fungsi sosial yang sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Tenun digunakan dalam penyambutan tamu, pejabat, serta berbagai acara adat yang melibatkan banyak pihak dari berbagai daerah dan negara.

Kehadiran tamu dari berbagai negara yang menerima atau menggunakan tenun tersebut turut meningkatkan nilai reputasi produk di mata publik. Hal ini secara otomatis memberikan kontribusi signifikan dalam penetapan nilai indikasi geografis terhadap produk tenun tersebut.

Randy juga membandingkan indikasi geografis dengan hak kekayaan intelektual lain seperti hak cipta dan merek dalam menentukan nilai produk. Menurutnya, hak cipta lebih menitikberatkan pada kualitas produk itu sendiri yang dinilai langsung oleh pengguna atau konsumen.

Ia mencontohkan bahwa dalam hak cipta seperti buku, penilaian lebih banyak didasarkan pada minat pembaca terhadap isi dan kualitas karya tersebut. Sementara itu, hak merek sangat erat kaitannya dengan persepsi kualitas yang dibangun melalui identitas dan konsistensi produk di pasaran.

“Kalau hak cipta itu lebih banyak ke nilai produknya, sementara merek juga sangat identik dengan kualitas produk,” ucapnya. Ia menegaskan bahwa perbedaan utama terletak pada indikator penilaian yang digunakan dalam masing-masing skema perlindungan kekayaan intelektual tersebut.

Sementara itu, indikasi geografis mencakup lebih banyak aspek yang mempengaruhi nilai sebuah produk, tidak hanya kualitas tetapi juga reputasi, faktor alam, dan faktor manusia. Kombinasi ketiga faktor tersebut menjadikan produk memiliki keunikan yang sulit ditiru oleh daerah lain.

Faktor alam misalnya berkaitan dengan penggunaan bahan pewarna alami yang dihasilkan dari lingkungan setempat yang khas. Sedangkan faktor manusia mencakup keterampilan, pengalaman, serta nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam proses pembuatan tenun.

“Faktor manusianya itu termasuk sejarah dan filosofi motif yang diciptakan, itu semua bisa digambarkan dalam story produk,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan cerita tersebut menjadi nilai tambah yang memperkuat identitas serta harga jual produk tenun di pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....