Keraguan Pemberi Modal Pengaruhi Usaha Kaum Difabel

  • 21 Jun 2026 11:04 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua – Keraguan pemberian modal usaha kepada kaum difabel, kerap muncul meski laporan keuangan, tata kelola manajemen, dan profit usaha terlihat baik serta konsisten berkembang. Kondisi tersebut menunjukkan adanya faktor non-teknis yang mempengaruhi keputusan kucuran dana, terutama terkait persepsi terhadap pelaku usaha dengan disabilitas.

Informasi ini disampaikan oleh Anita Trilestari, GEDSI Spesialis dari Wahana Visi Indonesia kepada rri.co.id, Sabtu 20 Juni 2026. Ia menjelaskan bahwa keraguan tersebut sebenarnya berakar pada stigma yang masih melekat kuat di masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabilitas.

Menurut Anita, minimnya role model atau figur sukses dari kalangan disabilitas di sektor industri menjadi salah satu penyebab utama munculnya keraguan tersebut. “Teman-teman dengan disabilitas yang sukses di bidang industri itu masih hitungan jari, sehingga belum banyak contoh nyata di sekitar kita.”

Ia menambahkan bahwa keberadaan figur inspiratif sering kali hanya terlihat di media sosial atau publikasi tertentu, namun tidak hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini membuat persepsi publik tidak terbentuk secara kuat karena kurangnya interaksi langsung dengan individu disabilitas yang berhasil.

Selain itu, Anita menilai penyebaran informasi yang belum merata serta algoritma media sosial yang tidak selalu menampilkan konten edukatif turut memperkuat stigma tersebut. Akibatnya, masyarakat lebih mudah meragukan kemampuan kerja, kemandirian, hingga pengambilan keputusan individu dengan disabilitas.

“Stigma itu berkaitan dengan anggapan tentang kemampuan bekerja, kemandirian, pengambilan keputusan, penanganan kondisi kritis, hingga manajemen stres. Stigma ini harus dibuka melalui interaksi yang lebih intens dan ruang dialog yang disengaja,” ucapnya.

Anita menekankan pentingnya menciptakan ruang pertemuan, diskusi, dan pertukaran pengalaman antara masyarakat umum dengan penyandang disabilitas. Dengan interaksi yang lebih luas, pemahaman akan meningkat dan kepercayaan terhadap kemampuan mereka dapat tumbuh secara alami.

Dalam konteks pengembangan individu, ia juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan diri serta keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing individu disabilitas. Menurutnya, ketika minat teridentifikasi dengan baik, kemampuan belajar dan pengembangan diri akan meningkat signifikan.

Sebagai organisasi, Wahana Visi Indonesia mendorong keterlibatan anak-anak dan penyandang disabilitas dalam berbagai pelatihan serta pengembangan potensi. Upaya ini bertujuan agar mereka memiliki kompetensi yang memenuhi standar dunia kerja dan mampu bersaing secara profesional.

“Penekanannya adalah kepercayaan diri dan skill, karena ketika kemampuan kita mumpuni dan sesuai kebutuhan kerja, maka peluang untuk diterima akan semakin besar. Prinsip ini berlaku bagi semua individu tanpa terkecuali,” katanya melalui sambungan telpon saat menjadi narasumber program layanan siaran Disabilitas dan Inklusi RRI Atambua.

Lebih lanjut, Anita menjelaskan bahwa keberagaman dalam dunia kerja justru memberikan manfaat besar bagi perusahaan. Kehadiran pekerja dengan latar belakang berbeda dapat meningkatkan kualitas tim dan membuka peluang mendapatkan sumber daya manusia yang lebih kompeten.

Ia juga mengungkapkan bahwa lingkungan kerja inklusif mampu menurunkan sikap intoleransi dan radikalisme, sekaligus meningkatkan nilai gotong royong, solidaritas, dan empati antar karyawan. Kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya loyalitas serta produktivitas kerja.

“Budaya kerja yang positif akan meningkatkan loyalitas karyawan dan menurunkan turnover, sehingga pada akhirnya berdampak pada peningkatan produktivitas dan profit perusahaan. Ternyata sudah ada berbagai hasil penelitian yang telah membuktikan manfaat tersebut secara nyata,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....