Perempuan Pedesaan Sulit Akses E-Commerce
- 20 Jun 2026 13:31 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua – Perempuan di wilayah pedesaan masih menghadapi kesulitan besar dalam mengakses layanan internet untuk masuk ke ekosistem e-commerce. Hal ini menjadi salah satu hambatan utama dalam mengembangkan usaha berbasis digital di daerah.
Informasi tersebut disampaikan oleh Fransisca Novita, Resilience Manager Wahana Visi Indonesia kepada rri.co.id Jumat 19 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa keterbatasan akses internet masih menjadi persoalan mendasar yang dirasakan perempuan pelaku usaha di desa.
Novita mengatakan, tantangan untuk masuk ke e-commerce tidak hanya soal kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor infrastruktur. “Untuk masuk ke e-commerce memang tantangan infrastruktur, jaringan internet sama logistik sebenarnya.”
Ia menjelaskan bahwa jaringan internet dan sistem logistik menjadi dua poin utama yang sangat memengaruhi keberhasilan usaha digital di pedesaan. Kedua aspek ini dinilai masih mahal dan terbatas sehingga menyulitkan pelaku usaha untuk berkembang.
Novita menyebutkan bahwa persoalan logistik sering kali menjadi beban tambahan yang signifikan bagi pelaku usaha. “Misalnya di desa begitu logistiknya sudah harus berangkat dari titik A sampai ke Jakarta itu bisa melebihi pengiriman ke luar negeri mungkin ya.”
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat pelaku usaha merasa lebih banyak mengeluarkan biaya untuk pengiriman dibandingkan nilai barang. Situasi ini menggambarkan bahwa biaya logistik menjadi hambatan serius dalam pengembangan e-commerce di wilayah pedesaan.
Selain faktor infrastruktur, keterampilan juga menjadi aspek penting yang harus dimiliki perempuan agar bisa sukses di pasar digital. Fransisca menekankan bahwa kemampuan manajemen keuangan menjadi hal paling utama dalam menjalankan usaha.

“Nomor satu, harus manajemen keuangan, itu wajib nomor satu,” ucapnya. Ia menjelaskan bahwa pelaku usaha harus mampu memisahkan keuangan keluarga dengan modal usaha agar bisnis dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, kebiasaan mencampur uang usaha dengan kebutuhan rumah tangga masih sering terjadi di kalangan pelaku usaha perempuan. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan usaha karena modal tidak dikelola secara optimal.
Selain manajemen keuangan, kemampuan memberikan layanan digital yang responsif juga menjadi faktor penting dalam menarik konsumen. Fransisca menilai bahwa komunikasi yang cepat dan ramah sangat menentukan keberhasilan penjualan secara online.
“Kalau mereka nge-chat harus segera dibalas, kemudian berikan informasi yang cukup banyak sehingga konsumen bisa memahami produk,” katanya. Ia menekankan bahwa kejelasan informasi sangat penting karena konsumen tidak melihat barang secara langsung.
Ia juga menambahkan bahwa respons yang lambat dapat membuat calon pembeli beralih ke penjual lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa kecepatan layanan menjadi peluang sekaligus tantangan dalam persaingan e-commerce.
Fransisca menegaskan bahwa ulasan positif dari konsumen sangat dipengaruhi oleh kualitas layanan yang diberikan penjual. Hal ini menjadi indikator penting yang dapat meningkatkan kepercayaan dan keputusan pembelian konsumen di platform digital.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....