Spiritualitas Meja Makan Membentuk Karakter Anak Secara Kuat
- 27 Apr 2026 14:32 WIB
- Atambua
RRI.CO.ID, Atambua - Spiritualitas meja makan dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter anak, terutama melalui kebiasaan sederhana berkumpul bersama keluarga setiap hari.
Hal ini disampaikan Romo Drs. Hironimus Masu, Pr., S.Pd, Praeses Seminari Menengah SMA Swasta Lalian Keuskupan Atambua, kepada rri.co.id, Senin 27 April 2026, menegaskan tentang momen makan bersama menjadi ruang penting menanamkan nilai kehidupan secara langsung kepada anak-anak sejak dini. “Ketika kita duduk satu meja, lepas HP, menikmati makan bersama, bapak dan mama bisa menanamkan hal-hal kecil kepada anak-anak.”
Ia menjelaskan bahwa kebiasaan ini menjadi bagian dari pendidikan karakter paling kuat dalam keluarga, bahkan lebih efektif dibandingkan pendekatan formal di luar rumah. Menurutnya, persoalan karakter anak saat ini tidak lepas dari pengaruh penggunaan handphone yang berlebihan sejak usia sangat dini tanpa kontrol orang tua.
“Saya biasa bilang, manusia yang melahirkan tetapi HP yang membesarkan,” kata Praeses Seminari Menengah SMA Swasta Lalian Keuskupan Atambua, menggambarkan kondisi nyata yang terjadi dalam banyak keluarga saat ini.
Romo Hironimus menilai anak-anak menjadi sangat tergantung pada perangkat elektronik, mulai dari saat makan, tidur, hingga ketika mereka menangis atau rewel di rumah. “Anak menangis dikasih HP, mau makan dikasih HP, mau tidur dikasih HP, akhirnya dia dikendalikan oleh alat ini.”
Dampaknya, lanjut Romo Hironimus, kemampuan anak dalam belajar, mendengar, dan menyerap informasi menjadi sangat lemah dibandingkan generasi sebelumnya. “Ketika HP diambil, anak menangis. Ketahanan untuk belajar sepuluh sampai lima belas menit saja sudah tidak kuat,” ujarnya.
Romo Hironimus juga menyoroti lemahnya interaksi sosial dalam keluarga, di mana masing-masing anggota sibuk dengan perangkatnya sendiri tanpa komunikasi yang sehat. “Kita duduk satu ruangan, bapak, mama, anak semua sibuk dengan HP masing-masing, komunikasi dalam keluarga macet total.”
Selain itu, Romo Hironimus mengamati bahwa pasca pandemi COVID-19, terjadi penurunan drastis dalam rasa ingin tahu anak terhadap ilmu pengetahuan dan hal-hal baru. “Keingintahuan anak sangat lemah, kita beri tugas saja harus dipaksa, padahal itu untuk kepentingan dirinya sendiri,” katanya.
Romo Hironimus menegaskan bahwa teknologi bukanlah masalah utama, melainkan cara penggunaan yang tidak bijaksana oleh anak-anak tanpa pendampingan orang tua. “Alat ini tidak salah, tetapi kita yang tidak bijaksana dalam menggunakannya sehingga justru merusak perkembangan anak,” ujarnya.
Ia mengimbau orang tua untuk memulai pembentukan karakter dari hal sederhana, terutama membangun kebiasaan makan bersama tanpa gangguan teknologi. “Mari mulai dari keluarga, duduk bersama di meja makan, itu pendidikan karakter paling kuat bagi anak-anak kita,” ucapnya berpesan.
Kepada generasi muda, ia juga mengingatkan pentingnya menggunakan teknologi secara bijak demi masa depan dan pengembangan karier mereka. “Pandai-pandailah menggunakan alat teknologi ini untuk kepentingan masa depan kita, jangan sampai kita yang dikendalikan,” tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....