Kepala SPPG di TTU Nyatakan Kejadian SMAN Insana Masih Indikasi

  • 07 Mar 2026 08:33 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Kefamenanu - Dapur SPPG di Desa Susulaku, Kecamatan Insana membantah adanya keracunan massal pada siswa yang mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka menyatakan bahwa belum ada hasil laboratorium dari Dinas Kesehatan TTU maupun BPOM yang membuktikan makanan tersebut sebagai penyebab keracunan. Hal ini disampaikan oleh Kepala SPPG, Petrus Renoldy Kii, saat diwawancarai awak media di SPPG tersebut pada Jumat 6 Maret 2026.

Menurut Renoldy bahwa, dugaan penyebab keracunan masih harus dibuktikan lewat hasil laboratorium. Sehingga kami belum bisa menyimpulkan bahwa makanan MBG sebagai penyebab utamanya. Karena ini masih indikasi dan kejadiannya tidak seperti yang digemborkan.

Lanjut Renoldy bahwa, dirinya selaku Kepala SPPG Susulaku diinformasikan pada Rabu lalu oleh 2 orang guru SMA Negeri 1 Insana bahwa di sekolah tersebut terdapat beberapa siswa mengalami sakit perut. Tetapi tidak ada informasi lanjutan terkait tindak lanjut terhadap siswa yang sakit perut itu penanganannya seperti apa.

Setelah dua orang guru SMA Negeri 1 Insana menginformasikan kejadian tersebut, mereka menyarankan supaya menu MBG dari SPPG Susulaku perlu diperhatikan kualitasnya. Sehingga sebagai Kepala SPPG ia menerima masukan para guru.

Selanjutnya ia, mengikuti rapat di Kota Kefamenanu. Namun Renoldy dikagetkan dengan pemberitaan media massa bahwa terdapat ratusan siswa-siswi SMA Negeri 1 Insana keracunan menu makan MBG yang didistribusikan SPPG Susulaku pada Selasa, namun reaksi anak-anak yang terindikasi keracunan baru terjadi pada Rabu. Karena itu, selaku Kepala SPPG ia bergegas menuju SMA Negeri 1 Insana supaya memastikan benarkah para siswa mengalami sakit perut atau tidak", ujar Renoldy.

"Berdasarkan konfirmasi itu, pihak SMA Negeri 1 Insana membenarkan bahwa para siswa benar ada yang mengalami sakit perut. Dari kejadian itu, ada beberapa siswa yang dibawa ke Puskesmas Oelolok supaya dilakukan penanganan medis sesuai yang dikeluhkan. Sehingga ia juga menyambangi puskesmas tersebut untuk memastikan para siswa itu dan ia menemukan 3 orang yang dipasangi infus sedangkan 4 orang lainnya menjalani rawat jalan", kata Renoldy.

Jadi jumlah siswa yang mengalami gejala mencret tidak sebanyak yang dilaporkan, karena hanya 3 orang yang rawat inap, 4 orang rawat jalan, kemudian menyusul lagi 3 orang rawat jalan sehingga totalnya sebanyak 10 orang yang mengalami mencret, bukan ratusan siswa", kata Renoldy.

Saat ini masih indikasi, maka selaku Kepala SPPG Susulaku ia kembali ke dapur tersebut dan memanggil Chef, PIC ahli gizi dan semua staf di SPPG tersebut untuk briefing untuk menindaklanjuti kejadian di SMA Negeri 1 Insana. Supaya meningkatkan kualitas pelayanan ke depan.

Tindak lanjut dari kejadian itu, maka Dinas Kesehatan TTU telah mengambil sampel makanan di SPPG Susulaku pada Selasa lalu supaya dilakukan uji laboratorium. Kemudian pada hari Kamis 5 Maret juga tim Satgas MBG juga telah mengecek kondisi SPPG tersebut. Bahkan Dinas Ketahanan Pangan juga telah mengecek bahan baku yang digunakan SPPG Susulaku, seperti ayam dan sayur terong yang disajikan sebelum kejadian mencret itu dan ternyata hasilnya baik", kata Renoldy (SK).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....