Trauma Tidak Langsung Didiagnosis usai Bencana

  • 20 Feb 2026 23:43 WIB
  •  Atambua

RRI.CO.ID, Atambua - Kondisi trauma tidak serta merta langsung didiagnosis, terhadap anak pasca bencana. Penegasan ini disampaikan Christiani Natalia Banik, S.Psi, Konsultan Psikologi, Founder Dhegea Child Stimulation Center, kepada rri.co.id, Selasa 17 Februari 2026.

“Sangat penting kehati-hatian menilai kondisi psikologis anak korban bencana. Karena bisa saja anak dalam kondisi takut, bukan trauma,” katanya dalam dialog Kentongan RRI Atambua.

Menurut Christiani, perasaan takut tidak selalu berarti trauma. Ada tahapan serta perbedaan gejala yang harus dicermati secara cermat sebelum mengambil kesimpulan lebih jauh.

“Karena trauma itu kita harus deteksi dulu gejalanya apa. Karena rasa takut dengan trauma itu berbeda,” ucapnya melalui sambungan telpon.

Ia menambahkan, anak yang mengalami trauma biasanya menyaksikan langsung kejadian ekstrem, seperti rumah roboh, tenggelam, atau kehilangan anggota keluarga akibat bencana.

Namun, tidak semua anak terdampak sampai mengalami trauma. Sebagian hanya merasakan takut, sedih, cemas, atau khawatir yang sifatnya sementara.

Karena itu, pendekatan awal yang dianjurkan adalah memberikan pertolongan pertama psikologi, atau Psychological First Aid (PFA) sebelum menentukan perlu tidaknya trauma healing profesional.

“Kalau untuk trauma healing itu harus psikolog atau profesional yang bisa lakukan,” tuturnya, seraya menekankan pentingnya pendampingan sesuai tingkat kondisi anak. (EM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....