Wayang Kulit Wukirsari, Warisan Budaya yang Terus Ditatah

  • 29 Sep 2026 16:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul - Ketukan alat tatah bersahutan di bengkel sederhana Kerajinan Kulit Pandu Wijaya, Karangasem, Wukirsari, Bantul. Di antara lembaran kulit, pola blak, cat, dan berbagai peralatan kerja, Mujiyono tekun menatah dan menyungging kulit menjadi tokoh-tokoh pewayangan.

Meski telah pensiun sebagai guru sekolah dasar pada 2019, keterampilan tersebut tetap dijalankannya. Bagi Mujiyono, wayang bukan sekadar kerajinan untuk memenuhi pesanan, tetapi juga warisan keluarga yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.

Ada pesan ayah yang hingga kini terus dipegangnya agar tidak meninggalkan wayang karena keterampilan tersebut dapat menjadi jalan untuk menghidupi keluarga.

“Jangan meninggalkan wayang. Dari wayang ini keluarga juga bisa mencukupi kebutuhan hidup,” kata ayahnya.

Pesan tersebut membuat Mujiyono terus menekuni tatah sungging hingga kini. Setelah menikah sekitar 1990, ia mulai mengembangkan kerajinan secara mandiri.

Usahanya berkembang setelah gempa Bantul pada 2006. Pembeli dari berbagai daerah, termasuk Kalimantan dan Sumatra, mulai datang untuk mendapatkan wayang hasil produksinya.

Kisah Mujiyono menjadi bagian dari perjalanan panjang seni tatah sungging di Dusun Pucung, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Sentra ini dikenal dengan kerajinan tatah sungging kulit, terutama wayang.

Tradisi tersebut disebut telah tumbuh sejak awal abad ke-20, sekitar 1900 hingga 1917, kemudian berkembang di tengah masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Tatah sungging merupakan seni memahat sekaligus mewarnai kulit dalam satu kesatuan karya. Mujiyono mulai mengenal keterampilan tersebut sekitar 1979 hingga 1980 ketika membantu ayahnya membuat wayang.

Saat itu, ayahnya menjadi tenaga pembuat wayang di rumah Pak Lurah Wukirsari yang juga merupakan abdi dalem Keraton Yogyakarta. Sang ayah lebih banyak mengerjakan tatah, sedangkan Mujiyono kemudian belajar menyungging secara mandiri dengan bantuan kakaknya.

Dari Kulit Menjadi Tokoh Pewayangan

Proses pembuatan wayang dimulai dari kulit sapi atau kerbau yang didatangkan dari Magetan, Jawa Timur. Setelah dibersihkan dan diproses di pabrik, kulit direntangkan hingga rata dan dikeringkan.

Kulit kemudian dipotong mengikuti ukuran dan blak atau pola yang telah ditentukan. Setelah itu, perajin mengerjakan tatah, menyungging atau mewarnai, hingga memasang tangkai atau gapit.

Pandu Wijaya memiliki pakem dan blak sebagai acuan untuk membuat berbagai tokoh pewayangan, hewan, hingga senjata seperti keris, pedang, dan tombak.

Untuk mempercepat proses produksi, pekerjaan dibagi kepada sejumlah perajin. Sekitar empat hingga lima orang mengerjakan tatah, sementara jumlah yang hampir sama mengerjakan sungging. Sebagian besar perajin tersebut merupakan ibu rumah tangga.

Dalam waktu sekitar tiga hari, dapat dihasilkan lima hingga enam wayang, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitannya.

Wayang berukuran sekitar 25 sentimeter relatif lebih sederhana. Sementara itu, tokoh berukuran besar seperti Bima dan Gunungan membutuhkan pengerjaan yang lebih teliti.

“Prosesnya sebenarnya tidak banyak, tetapi harus tekun dan telaten. Dikerjakan dengan sepenuh hati,” kata Mujiyono.

Setelah proses tatah dan sungging selesai, setiap wayang diperiksa kembali. Bentuk, warna, kekuatan gapit, kebersihan bagian belakang, hingga detail kecil menjadi bagian yang diperhatikan sebelum karya digunakan atau dipasarkan.

Dari tangan para perajin, lembaran kulit kemudian berubah menjadi tokoh dengan bentuk, warna, karakter, dan cerita yang khas.

Menjangkau Pasar hingga Luar Negeri

Pesanan wayang Pandu Wijaya datang dari berbagai daerah, seperti Tegal, Kediri, dan Kalimantan. Dalang dapat memesan satu set lengkap maupun tokoh tertentu sesuai kebutuhan.

Produk kerajinan tersebut bahkan telah menjangkau pembeli dari luar negeri, termasuk Inggris. Sementara bagi wisatawan, wayang berukuran kecil menjadi pilihan karena lebih mudah dibawa.

Perubahan teknologi juga ikut mengubah cara perajin memasarkan produk. Pandu Wijaya kini memanfaatkan pemasaran secara daring untuk menjangkau pembeli.

“Sekarang pemasarannya online. Kalau tidak online sudah ketinggalan,” ujar Mujiyono.

Di tengah perubahan cara produksi dan pemasaran, tatah sungging juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Para ibu rumah tangga yang terlibat memperoleh pekerjaan sekaligus tambahan penghasilan setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Bagi Mujiyono, manfaat ekonomi tersebut berjalan beriringan dengan upaya menjaga nilai budaya melalui setiap karya.

“Yang penting melestarikan kebudayaan kerajinan wayang. Ini warisan sejarah nenek moyang kita,” katanya.

Menyiapkan Generasi Ketiga

Wayang kulit tidak berhenti pada bentuk fisiknya. Di dalamnya terdapat perpaduan seni rupa, cerita, musik, simbol, dan nilai kehidupan.

Karena itu, keterampilan membuat wayang juga berarti menjaga pengetahuan mengenai karakter tokoh, tatah sungging, pakem, serta nilai budaya yang menyertainya.

Pengetahuan tentang perawatan wayang pun terus dijaga. Wayang perlu dijauhkan dari air agar tidak mudah rusak. Ketika udara lembap, wayang diangin-anginkan untuk menjaga kondisinya.

Kini, keberlanjutan keterampilan tersebut mulai diarahkan kepada generasi berikutnya. Nama “Pandu Wijaya” sendiri diambil dari nama anak Mujiyono. Ia berharap sang anak dapat meneruskan kerajinan tersebut sebagai generasi ketiga.

Keterampilan yang dahulu diwariskan sang ayah kepada Mujiyono kini tengah disiapkan untuk kembali berpindah tangan.

Di bengkel Pandu Wijaya, ketukan alat tatah bukan sekadar bunyi dari proses produksi. Setiap guratan pada kulit menjadi jejak keterampilan yang diwariskan. Setiap warna yang disungging menghidupkan kembali karakter pewayangan.

Setiap karya yang selesai juga membawa cerita dari masa lalu ke masa kini.

Menjaga wayang tidak hanya berarti mempertahankan sebuah kerajinan. Di tangan Mujiyono dan generasi yang disiapkannya, wayang menjadi ruang untuk merawat pengetahuan, membuka penghidupan, sekaligus memastikan warisan budaya tetap memiliki tangan untuk berkarya.

Dari Wukirsari, warisan itu terus ditatah dan disungging. Kemudian diteruskan agar tidak berhenti pada satu generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....