Museum sonobudoyo dikenal menjadi destinasi utama para wisatawan

  • 27 Jul 2026 13:20 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID – Suasana Museum Sonobudoyo pada Jumat 25 Juli 2026, siang terbilang tenang dan sepi, hanya diwarnai riuh samar langkah serta percakapan para pengunjung yang melintas di koridor pameran. Letaknya sangat strategis karna berada di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, museum ini berdiri kokoh sebagai ruang tenang yang merawat puluhan ribu jejak peradaban Nusantara.

Meskipun arus kunjungan wisatawan terus mengalir setiap hari, tidak seluruh staf museum bertugas secara menetap di area pameran publik. Rafi, seorang edukator museum asal Sleman, menjelaskan bahwa dirinya tak selalu hadir di lokasi museum. Ia hadir dan bertugas secara khusus saat agenda kunjungan resmi, kegiatan edukasi mendalam, atau pendampingan tamu yang memerlukan keterangannya.

Hingga saat ini, Museum Sonobudoyo di nobatkan sebagai museum terbesar di yogyakarta berdasarkan kuantitas koleksi. Lebih dari 63.000 unit artefak bersejarah tersimpan dan terawat di lembaga ini, mencakup khazanah budaya dari empat wilayah utama di Indonesia: Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Sajian narasi pameran dirancang berurutan, membentang dari perkakas era prasejarah hingga peninggalan megah era kesultanan.

Memasuki ruang pameran utama, pengunjung langsung disambut oleh megahnya bangunan Rumah Limas, sebuah struktur arsitektur tradisional yang anggun dan sarat makna simbolis. Kehadiran Rumah Limas di bagian awal pameran ini menjadi penanda awal dari penjelajahan budaya, sekaligus merepresentasikan keagungan kriya dan seni bina hunian Nusantara sebelum pengunjung melangkah lebih jauh menuju deretan artefak bersejarah lainnya.

“Museum kami menyimpan lebih dari 63.000 koleksi. Namun, bukan hanya kuantitas yang kami perlihatkan, melainkan bagaimana kami menyajikannya secara interaktif agar sejarah tidak lagi dianggap membosankan atau memicu kantuk,” ujar Rafi

Guna mempertahankan daya tarik wisatawan pengelola museum senobudoyo memanfaatkan teknologi interaktif dan media digital yang kini dipadukan dengan agenda kebudayaan rutin.

Ditambahkan Rafi bahwa dimuseum ini digelar pameran berkala dua kali dalam setahun yaitu:pameran wastra tradisional (Abhinaya) dan nusawastra Annual Museum Exhibition (AMEX) disertai pementasan seni harian meliputi wayang kulit, wayang orang, dan wayang topeng Panji inilah yg menjadi keunikan tersendiri bagi museum ini yg mungkin tidak ada ditempat lain.

Deretan koleksi topeng tradisional dari jaman dahulu hingga sekarang yg di koleksi dan dirawat secara berkala menggunakan teknik konservasi berbasis kimiawi dan akademis unuk menjaga keasliannya. (Foto; RRI/Afifah zahra)

Di samping area pameran utama (Unit 1), aktivitas krusial juga berlangsung di Unit 2 yang difungsikan sebagai laboratorium konservasi dan penyimpanan inventaris. Dalam pemeliharaan artefak, Rafi menegaskan bahwa pihak museum menerapkan prosedur akademis dan metode ilmiah yang terukur.

Koleksi topeng yang dipajang di Museum Sonobudoyo umumnya berkaitan erat dengan Siklus Panji, yaitu kisah kepahlawanan dan percintaan klasik Nusantara yang berkembang sejak era Kerajaan Majapahit. Topeng-topeng ini dahulunya digunakan dalam pementasan drama tari Wayang Topeng untuk membawakan karakter-karakter ikonik, seperti Raden Panji Asmarabangun yang berbudi luhur, Dewi Sekartaji yang anggun, hingga Klana Sewandana yang berkarakter gagah dan temperamental.

Setiap topeng buatan perajin tradisional Jawa, Bali, dan Madura ini sarat akan simbolisme watak manusia yang dipancarkan melalui warna dan detail ukirannya. Warna putih atau hijau muda melambangkan kesucian dan ketenangan, warna merah merepresentasikan keberanian serta amarah, sementara warna hitam menggambarkan kearifan dan keteguhan hati. Melalui ekspresi wajah yang dipahat pada kayu, topeng menjadi media penyampaian pesan moral dan nilai kebudayaan bagi para penontonnya.

Sebagai artefak berbahan dasar kayu dan pewarna alami, koleksi topeng di pameran Sonobudoyo memerlukan pemeliharaan ekstra agar tidak lapuk atau rusak dimakan usia. Pengelola museum secara berkala melakukan perawatan fisik dan pencegahan hama menggunakan teknik konservasi ilmiah berbasis kimiawi di laboratorium khusus. Hal ini dilakukan demi menjaga kelestarian kriya warisan Nusantara tersebut agar tetap utuh dan berharga bagi edukasi publik.

Meski demikian, tantangan dalam menjaga kelestarian koleksi tetap ada. Pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) oleh oknum pengunjung seperti keinginan menyentuh objek pameran terbuka seperti perangkat gamelan masih kerap terjadi. Untuk mengantisipasi risiko kerusakan pada koleksi bernilai tinggi tersebut, pengelola menerapkan langkah edukasi persuasif yang didukung kesiapsiagaan personel keamanan (satpam) di area museum.

Rafi berharap agar masyarakat, khususnya generasi muda, dapat menjadikan museum sebagai ruang belajar yang menginspirasi secara berkelanjutan. Melalui fasilitas panduan edukasi, pertunjukan seni harian, dan tata pamer yang ramah pengunjung, Museum Sonobudoyo membuktikan keberhasilannya mengemas sejarah menjadi warisan bernilai hidup yang relevan bagi publik luas. ( Afifah zahra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....