Solusi Lahan Sempit, Kelompok Tani Wirobrajan Panen Perdana Padi Galon Bekas
- 30 Sep 2026 10:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keterbatasan lahan bukan menjadi kendala terbesar dalam mewujudkan ketahanan pangan mandiri di tingkat masyarakat, salah satunya di Kota Yogyakarta. Melalui tekad dan semangat terus berinovasi, Kelompok Tani Swa Katon Asri Wirobrajan Kota Yogyakarta untuk pertama kalinya melakukan panen raya padi, Jumat, 25 September 2026.
Memanfaatkan lahan terbatas dan barang-barang bekas seperti galon air, pertanian terpadu dibangun di tengah-tengah perkampungan. Budidaya padi dipadukan dengan budidaya ikan lele serta penanaman berbagai jenis sayuran, seperti cabai, tomat, terong, dan tanaman pangan lainnya.
Anggota Kelompok Tani Swa Katon Asri, Murharjo menceritakan, awal mula dibentuknya kelompok tani ini hanya menanam sayur mayur, yang sudah dijalankan selama 3 tahun. Sedangkan padi dengan media galon bekas ini baru dimulai sekitar 3 bulan lalu.
"Dalam praktiknya, kami juga dibantu oleh Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Yogyakarta," katanya.
Murharjo menjelaskan, Padi yang ditanam merupakan jenis Hibrida 32 yang memiliki masa panen 110 hari. Disamping lebih ceat dan bulir padi yang dihasilkan gemuk, perawatan untuk padi jenis ini lebih mudah.
"Selama di sini itu, minim hama, jadi seperti Walang Sangit itu tidak ada, cuma satu dua, terus diambil ya sudah. Memang tantangan terbesar adalah burung Pipit," katanya, mengungkapkan.
Dalam panen perdana padi dalam galon bersama Wakil Ketua DPD RI Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo ini menunjukkan ruang terbatas tidak membatasi kreativitas pertanian.
GKR Hemas sangat mengapresiasi inovasi Kelompok Tani Swa Katon Asri. Menurutnya, Kota Yogyakarta yang merupakan wilayah perkotaan dengan ruang terbatas, pendekatan pertanian seperti ini sangat relevan.
"Pemerintah Kota Yogyakarta harus terus mendorong agar masyarakatnya tidak hanya berpikir mengenai pertanian yang membutuhkan hamparan lahan luas, tetapi juga mencari cara untuk mengoptimalkan ruang yang tersedia," ujarnya.
GKR Hemas mengharapkan, keberhasilan dalam pertanian perkotaan yang ditunjukkan Kelompok Tani Swa Katon Asri ini bisa menjadi contoh bagi kelompok tani lainnya. Ia juga berharap, agar masyarakat tidak berhenti berinovasi, tetapi terus mencoba, mengevaluasi hasil yang telah dilakukan, serta mempelajari teknologi maupun metode yang lebih efisien.
“Ini menjadi contoh, bahwa pertanian harus memiliki sawah, tetapi bisa dari rumah-rumah atau halaman bisa dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ini penting memberdayakan masyarakat untuk ketahanan pangan sesuai yang dihimbau Bapak Presiden, bahwa setiap Provinsi Kabupaten/Kota itu, harus menggiatkan tanaman untuk dikonsumsi masyarakat,” ujarnya, menjelaskan.
Hal senada dikatakan oleh Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo. Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada Kelompok Tani Swa Katon Asri dan warga yang telah mengembangkan pertanian terpadu di lingkungan permukiman.
Menurut Hasto, kegiatan pertanian terpadu tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan lahan di perkotaan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mengembangkan sumber pangan secara mandiri.
"Berbagai ruang yang tersedia dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk menghasilkan pangan," jelasnya.
Hasto menilai pola tersebut menjadi contoh sederhana mengenai bagaimana masyarakat dapat mengoptimalkan ruang yang terbatas sekaligus memanfaatkan kembali barang-barang yang masih memiliki nilai guna.
“Ketahanan pangan di kota tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk melihat peluang dari ruang yang tersedia, memanfaatkan kembali barang yang masih bisa digunakan, serta mengelolanya secara bersama-sama,” katanya.
Di lahan Kelompok Tani Swa Katon Asri ini terdapat seratusan galon berisi padi yang sebentar lagi siap panen. Pemanfaatan ruang secara terpadu tersebut, diungkapkan Hasto, memungkinkan masyarakat mendapatkan beragam sumber pangan dalam satu kawasan.
"Padi menjadi sumber karbohidrat, budidaya lele menjadi sumber protein, sementara cabai, tomat, terong dan berbagai sayuran dapat memenuhi kebutuhan pangan lainnya," katanya, menjelaskan.
Hasto menyampaikan, apabila lahan yang tersedia sempit, maka ruang tersebut perlu dioptimalkan, termasuk memanfaatkan barang bekas yang masih dapat digunakan kembali. Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan pertanian terpadu tidak hanya dapat dilihat dari jumlah hasil panen, keberlanjutan kegiatan, manfaat yang dirasakan masyarakat, proses berbagi pengetahuan, serta semakin banyaknya warga yang terlibat juga menjadi bagian penting dari keberhasilan program tersebut.
"Potensi warga dapat disatukan melalui kelompok sehingga menghasilkan kegiatan yang lebih produktif. Praktik yang berhasil kemudian dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lainnya. elain mendukung ketahanan pangan, pertanian terpadu juga dinilai memiliki nilai sosial," katanya, menambahkan.
Hasto mengharapkan, panen perdana Kelompok Tani Swa Katon Asri ini menjadi awal untuk memperkuat kelompok, meningkatkan pola budidaya, memperluas keterlibatan masyarakat, dan menjadikan ruang-ruang di kampung semakin produktif. Ia menekankan, gotong royong dan kemandirian masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kegiatan termasuk pelibatan generasi muda dalam pengembangan pertanian perkotaan.
Pertanian saat ini tidak harus selalu dipandang sebagai kegiatan tradisional karena dapat dikembangkan melalui teknologi, kreativitas, pengolahan hasil, pemasaran digital, pengelolaan lingkungan hingga menjadi peluang usaha. Dari galon bekas, tumbuh padi, dari lahan sempit, tumbuh sayuran, dari kolam, tumbuh sumber protein, dan dari kebersamaan masyarakat, tumbuh ketahanan pangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....