Ubah Pola Belajar ASN, 'Outcome Based Learning' Targetkan Beri Dampak Langsung Warga
- 30 Sep 2026 10:06 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta resmi meluncurkan babak baru dalam transformasi tata kelola sumber daya manusia Aparatur Sipil Negara (ASN). Melalui Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), Pemkot Yogyakarta menjadikan Akademi Pencegahan Stunting sebagai pilot project penerapan sistem Corporate University (CorpU) berbasis pembelajaran tematik dan pemecahan masalah (problem-based learning).
Kepala BKPSDM Kota Yogyakarta, Sarwanto menjelaskan, pengembangan Akademi Pencegahan Stunting merupakan bagian dari transformasi pengembangan kompetensi ASN di lingkungan Pemkot Yogyakarta. Pembelajaran tidak lagi semata diarahkan untuk meningkatkan kompetensi individu, tetapi juga harus memberikan kontribusi terhadap kinerja organisasi dan penyelesaian isu strategis pembangunan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan penguatan Corporate University sebagai sistem pembelajaran terintegrasi. Melalui OBL, pembelajaran diarahkan pada persoalan nyata, berbasis data, kolaboratif dan berorientasi pada hasil.
“Pembelajaran tidak hanya berhenti pada peningkatan kompetensi individu, tetapi harus memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kinerja organisasi dan penyelesaian isu strategis pembangunan,” katanya, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Pedoman Outcome Based Learning (OBL) Akademi Pencegahan Stunting di Ruang Yudistira Balai Kota Yogyakarta, Selasa, 29 September 2026.
Sarwanto menekankan, tentang pentingnya pedoman yang implementatif agar konsep OBL dapat diterapkan secara nyata. Karena itu, FGD menjadi ruang untuk menguji kembali struktur kurikulum, tahapan pembelajaran, metode, alokasi waktu, bentuk penugasan hingga pembuktian hasil pembelajaran.
Sarwanto menjelaskan, orientasi akhir dari pembelajaran tersebut adalah perubahan yang dapat diukur. Karena itu, pedoman juga dirancang untuk mengukur outcome pada empat tingkatan, yakni individu, organisasi, masyarakat, serta dampak program.
“Yang ingin dibangun adalah pembelajaran yang berorientasi pada outcome, sehingga hasilnya bisa dibuktikan dan diukur,” ucapnya.
Plt. Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Yuni Hastutiningsih menilai, pendekatan OBL akan lebih kuat jika keluarga dan lokus nyata dijadikan sebagai laboratorium pembelajaran. Ia mengusulkan agar peserta menyusun rencana aksi secara bertahap dalam 30, 60 dan 90 hari.
Pada tahap awal dijelaskan Yuni, digunakan untuk menentukan lokus prioritas, memvalidasi keluarga sasaran dan memetakan layanan yang belum diterima. Selanjutnya dilakukan intervensi lintas sektor, coaching, review kasus hingga pengukuran perubahan.
“Gunakan satu data sasaran terverifikasi untuk seluruh perangkat daerah. Kemudian susun rencana aksi 30 hari, 60 hari, 90 hari dengan penanggung jawab yang jelas,” ucapnya.
Yuni menjelaskan, pembelajaran juga perlu memastikan setiap materi memiliki keluaran dan bukti hasil yang jelas. Dengan demikian, keberhasilan tidak hanya terlihat dari selesainya proses belajar, tetapi dari perubahan layanan yang diterima keluarga sasaran.
Melalui penerapan Outcome Based Learning, Akademi Pencegahan Stunting diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas ASN, tetapi juga menghasilkan perubahan nyata dalam layanan dan intervensi kepada keluarga sasaran, sehingga upaya pencegahan stunting semakin terukur dan tepat sasaran.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....