Pesan Sri Sultan untuk 360 Penerima Satyalancana Karya Satya

  • 08 Sep 2026 11:00 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa kesetiaan dalam pengabdian tidak semata-mata diukur dari panjangnya masa kerja. Menurutnya, pengabdian sesungguhnya tercermin dari keteguhan dalam menjaga amanah, terutama ketika menghadapi perubahan jabatan, perkembangan zaman, hingga tantangan pelayanan publik.

Hal tersebut disampaikan Sri Sultan dalam acara Penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya Presiden Republik Indonesia Tahun 2026 di Yogyakarta, Senin, 7 September 2026. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada 360 PNS atas pengabdian selama 10, 20, dan 30 tahun.

Atas nama Pemda DIY, Sri Sultan menyampaikan selamat kepada seluruh penerima Satyalancana Karya Satya. Ia menekankan bahwa penghargaan tersebut tidak hanya menjadi penanda lamanya masa pengabdian, tetapi juga pengingat mengenai kehormatan dan tanggung jawab yang melekat dalam menjalankan tugas sebagai aparatur negara.

“Sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun adalah hitungan masa kerja. Tetapi satya tidak dihitung oleh kalender. Satya diuji oleh keteguhan menjaga amanah, ketika jabatan berubah, zaman berganti, dan tantangan pelayanan datang silih berganti,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menilai perjalanan panjang dalam pemerintahan semestinya mampu melahirkan pengalaman yang memberikan manfaat lebih luas. Karena itu, Satyalancana Karya Satya tidak hanya berkaitan dengan lamanya waktu pengabdian, tetapi juga dengan kesetiaan dan keteladanan yang diwariskan.

“Waktu memberikan pengalaman. Kesetiaan memberikan makna. Keteladanan menjadikan keduanya berguna bagi generasi yang melanjutkan pengabdian,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menerapkan nilai laku sepi ing pamrih, rame ing gawe, yakni bekerja secara sungguh-sungguh tanpa menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama. Satyalancana, menurutnya, perlu menjadi momentum bagi penerimanya untuk melakukan refleksi atas perjalanan pengabdian yang telah dilalui.

Penghargaan tersebut diharapkan dapat menjadi cermin untuk melihat sejauh mana pengalaman yang diperoleh selama bertugas mampu mematangkan kebijaksanaan, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat integritas.

Di sisi lain, aparatur pemerintahan kini menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat. Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial turut mengubah pola kerja pemerintahan, sementara ekspektasi masyarakat terhadap kualitas pelayanan publik terus meningkat.

Sri Sultan menilai situasi tersebut mengharuskan aparatur untuk terus belajar dan mampu beradaptasi. Menurutnya, kesetiaan terhadap negara bukan berarti mempertahankan pola kerja lama, melainkan memiliki keberanian untuk melakukan perubahan demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Setia kepada pengabdian tidak berarti setia kepada cara-cara lama. Kesetiaan kepada negara justru menuntut kesediaan untuk terus belajar, keberanian untuk berubah, dan kerendahan hati untuk memperbaiki pelayanan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Sri Sultan mengatakan pengalaman yang dimiliki para penerima Satyalancana tidak seharusnya berhenti sebagai pencapaian pribadi. Para ASN senior memiliki tanggung jawab moral untuk meneruskan etos kerja, integritas, serta kebijaksanaan kepada generasi aparatur berikutnya.

“Sebab institusi yang kuat bukan hanya memiliki pegawai yang cakap, tetapi juga memiliki mata rantai keteladanan yang tidak terputus,” ujar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, tanda kehormatan yang disematkan di dada merupakan simbol dari perjalanan panjang pengabdian seorang aparatur. Namun, kehormatan yang sesungguhnya tidak hanya berasal dari penghargaan, melainkan tumbuh melalui kepercayaan masyarakat yang dibangun dari kerja dan sikap dalam menjalankan tugas.

Sri Sultan berharap penghargaan Satyalancana Karya Satya dapat semakin meneguhkan komitmen para penerima untuk melanjutkan pengabdian sekaligus mewariskan keteladanan kepada generasi penerus.

“Pada akhirnya, tanda kehormatan dapat disematkan di dada, tetapi kehormatan yang sesungguhnya hanya dapat disematkan oleh masyarakat, melalui kepercayaan,” kata Sri Sultan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....