'Mental Disorder' Picu Masalah, Wali Kota Ajak Psikolog Terjun Tangani Masalah
- 28 Sep 2026 18:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan perhatian serius terkait kesehatan mental, perceraian dan sumber daya manusia (SDM). Hal ini diungkapkan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat menjadi pembicara kunci International Symposium on Community Psychology (ISCP) yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu, 26 September 2026.
Hasto menyampaikan, simposium ini diharapkan menjadi sebuah diskusi kontekstual terhadap penuaan penduduk di Indonesia khususnya Yogyakarta hingga kesehatan mental, perceraian dan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, permasalahan di Kota Yogyakarta ini bisa menjadi sebuah perspektif kajian secara psikologi, sehingga bisa memberikan dampak dan diterapkan untuk mencegah permasalah-permasalahan di Yogyakarta secara ilmu psikologi.
"Jadi apa yang menjadi diskusi di dalam simposium harapan saya kontekstual terhadap permasalahan di Kota Yogyakarta. Suasana psikologis ekosistem di Kota Yogyakarta dan di Daerah Istimewa Yogyakarta itu penting bisa menjadi perspektif untuk kajian,” katanya.
Hasto menilai psikologi ekosistem Kota Yogyakarta dan DIY memiliki keunikan, salah satunya terkait aging population atau penuaan penduduk. Fase aging population ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas atau lanjut usia (lansia) yang melebihi ambang 10 persen.
Hasto memaparkan, data persentase jumlah penduduk lansia di beberapa daerah, salah satunya persentase penduduk lansia di DIY di angka 17,83 persen atau di atas rata-rata nasional. Kondisi itu salah satunya berdampak kepada anak usia produktif harus menjadi sandwich generation karena menanggung orang tua lansia.
“Ini satu catatan penting yang kemudian konsekuensinya banyak. Sebetulnya di wilayah-wilayah yang tidak punya sumber daya alam, ekosistemnya seperti di Yogyakarta ini, suasana psikologisnya adalah lansia. Saya kira satu hal yang harus disadari generasi muda, karena sandwich generation adalah yang akan menerima beban ini,” ucapnya.
Hasto menegaskan, Kota Yogyakarta hanya memiliki SDM sebagai daya utama, karena tidak mempunyai sumber daya alam, sehingga harus diberdayakan. Untuk itu, kualitas SDM sekitar tujuh puluh persen dipengaruhi oleh ekosistem seperti pendidikan, lingkungan, sampah, air dan sanitasi.
Di sisi lain Hasto juga menyoroti angka perceraian di Indonesia yang cenderung meningkat. Menurutnya dari hasil penelitian mayoritas perceraian karena perselisihan dan pertengkaran.
Kondisi ini lanjut Hasto, salah satunya dinilai karena sumber persoalan mental disorder. Ia berharap permasalahan-permasalahan itu dapat dicegah secara ilmu psikologi.
“Kalau data ternyata perceraian naik, toxic people naik, kenakalan remaja juga sedikit mengkhawatirkan, maka approach-nya, policy di pendidikan mulai dari tingkat dasar, menengah, ini mungkin menjadi satu cara untuk menjawab. Bagaimana mencegah terjadinya perilaku toxic, mencegah perceraian nggak ada programnya. Harus ada orang yang concern mencegah broken home, jadi saya kira kalau kemudian teman-teman psikolog akan memahami suasana kebatinan manusia di lingkungan ekosistem seperti itu, maka program akan lahir tepat sasaran,” ujarnya.
Sementara itu Wakil Dekan Fakultas Psikologi UAD Yogyakarta, Muhammad Nur Syuhada menyampaikan, ISCP mengambil tema creating sustainable communities through collective action, social justice and community empowerment atau membangun masyarakat berkelanjutan melalui aksi kolektif, keadilan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyatakan, psikologi tidak hanya berbicara tentang memahami individu, tapi juga memahami komunitas tempat orang-orang hidup, serta berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih sehat, lebih kuat, lebih inklusif, dan lebih berdaya.
“Semangat yang ingin kita bawa ke simposium ini adalah mendekatkan psikologi kepada masyarakat. Kita hadir di sini tidak hanya untuk mempresentasikan hasil penelitian untuk bertukar ide, belajar dari berbagai pengalaman. Tapi juga membangun hubungan yang bermakna, dan menciptakan peluang untuk berkolaborasi. Semoga diskusi ini tidak hanya berhenti di ruangan dan gagasan kita dapat dapat menjangkau masyarakat. Ilmu yang kita miliki dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan bermakna,” ujarnya, mengungkapkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....