Jangan Takut Mencari Bantuan saat Alami Gangguan Mental
- 30 Jul 2026 15:25 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kesehatan mental remaja menjadi perhatian serius seiring meningkatnya jumlah kasus dalam beberapa tahun terakhir. Masa remaja yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, sosial, dan kognitif membuat kelompok usia ini rentan menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan akademik, pergaulan, dinamika keluarga, hingga pengaruh media sosial.
Apabila berbagai tekanan tersebut tidak diimbangi kemampuan mengelola emosi serta dukungan dari lingkungan sekitar, kondisi itu berpotensi berkembang menjadi persoalan kesehatan mental.
Berdasarkan hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, sekitar 15,5 juta atau 34,9 persen remaja di Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental. Temuan tersebut juga sejalan dengan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental.
Kondisi ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental remaja telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama. Menanggapi kondisi tersebut, Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa angka sepertiga remaja mengalami masalah kesehatan mental tidak berarti seluruhnya mengalami gangguan secara bersamaan.
Menurutnya, data tersebut lebih menggambarkan lifetime prevalence, yakni seseorang pernah mengalami masalah kesehatan mental setidaknya sekali selama masa remaja.
Meski demikian, ia menilai angka tersebut tetap menjadi sinyal penting yang harus mendapat perhatian.
Rahmat menjelaskan bahwa tidak semua perubahan emosi yang dialami remaja dapat dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental. Setiap individu, menurutnya, akan menghadapi berbagai krisis perkembangan sebagai bagian dari proses menuju kedewasaan.
"Mengalami krisis pada tahap pertumbuhan itu hal yang wajar. Keberhasilan melewati dan menghadapi krisis pertumbuhan itulah yang menjadi tangga menuju kedewasaan dan kematangan," katanya, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menambahkan, krisis perkembangan dapat berubah menjadi persoalan yang lebih serius apabila tidak mampu diatasi dan terus menumpuk. Rahmat membedakan masalah psikososial dengan gangguan kesehatan mental. Masalah psikososial lebih berkaitan dengan terganggunya fungsi sosial seseorang, sedangkan gangguan kesehatan mental telah memengaruhi fungsi psikologis, mulai dari emosi, pola pikir, hingga persepsi terhadap realitas.
"Mengalami kebingungan, merasa tidak percaya diri, atau emosi yang bergejolak merupakan bagian dari proses pertumbuhan. Tetapi kalau ini berlanjut menjadi kesedihan tanpa habis, depresi, nah itu sudah menjadi masalah kesehatan jiwa," ujarnya.
Rahmat menilai dukungan dari keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan pendidikan menjadi faktor penting agar remaja mampu melewati berbagai tekanan tersebut. Lingkungan yang mau mendengar tanpa menghakimi dinilai dapat membantu mengurangi beban psikologis.
"Stres itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah stres yang berlebihan dan berkepanjangan sehingga melewati daya tahan tubuh fisik kita maupun psikologis kita. Kalau tanpa stres, orang tidak akan pernah berkembang," katanya.
Peran Orang Tua
Rahmat mengungkapkan masih banyak orang tua yang belum mampu membedakan perubahan emosi yang wajar dengan gejala awal gangguan kesehatan mental. Menurutnya, memberi ruang bagi anak untuk memproses emosinya bukan berarti membiarkan mereka menghadapi masalah sendirian.
Ia menilai orang tua perlu menunjukkan empati dan kesiapan mendampingi tanpa memberikan penilaian. Kehadiran orang tua dapat diwujudkan dengan menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.
"Membiarkan berbeda dengan memberi kesempatan, memberi ruang, memberi space. Orang tua yang tepat adalah memberikan ruang bagi anak untuk mengalami, tetapi juga menunjukkan bahwa anytime kalau diperlukan siap mendukung dan tidak menghakimi," katanya.
Selain itu, orang tua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku yang tidak lagi wajar, seperti mengurung diri dalam waktu lama, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, atau menunjukkan perubahan sikap yang drastis. Kondisi tersebut perlu segera direspons melalui komunikasi yang hangat maupun bantuan profesional bila diperlukan.
Literasi dan Layanan Pendampingan
Rahmat menilai meningkatnya literasi kesehatan mental dalam beberapa tahun terakhir menjadi perkembangan positif. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang memahami kapan harus mencari bantuan dan kepada siapa mereka dapat berkonsultasi.
"Literasi terhadap kesehatan mental belakangan ini sudah mulai membaik. Yang mengalami masalah kesehatan mental sudah paham kapan membutuhkan bantuan dan kepada siapa harus meminta bantuan," ujarnya.
Di lingkungan UGM, kata Rahmat, telah tersedia sejumlah layanan pendampingan seperti Unit Layanan Kesehatan Mental (ULKM), Mental Health Emergency Response Lines, serta berbagai program pendampingan lainnya untuk mendukung kesehatan mental sivitas akademika.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak lagi memberikan stigma terhadap gangguan kesehatan mental karena kondisi tersebut merupakan bagian dari persoalan kesehatan yang memerlukan penanganan sebagaimana penyakit fisik.
Skrining Perlu Tindak Lanjut
Terkait rencana skrining kesehatan mental di sekolah maupun perguruan tinggi, Rahmat menilai langkah tersebut penting sebagai upaya deteksi dini. Namun, menurutnya, skrining tidak akan efektif apabila tidak diikuti sistem pendampingan bagi individu yang membutuhkan bantuan.
"Screening efektif, tetapi tidak cukup. Hanya mengenali sakitnya tanpa menyediakan cara mengobatinya itu seperti PHP saja," katanya.
Ia menjelaskan, di UGM setiap hasil skrining akan ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pendampingan oleh tenaga profesional di bawah koordinasi Unit Layanan Kesehatan Mental sehingga mahasiswa memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Jangan Malu Meminta Bantuan
Di akhir wawancara, Rahmat mengajak para remaja untuk tidak merasa malu ketika menghadapi masalah kesehatan mental. Menurutnya, menerima kondisi yang sedang dialami merupakan langkah awal menuju pemulihan.
"Masalah kesehatan mental dalam satu dan lain situasi tidak bisa dihindari. Jadi sikap yang baik adalah menerima bahwa saya memang sedang mengalami masalah kesehatan mental dan tidak perlu malu untuk meminta bantuan," ucapnya.
Rahmat meyakini pengalaman menghadapi gangguan kesehatan mental dapat menjadi proses pembelajaran yang membentuk pribadi lebih tangguh apabila ditangani dengan dukungan yang tepat.
"Dari masalah kesehatan mental yang diatasi dengan baik, justru akan menjadi proses pertumbuhan pribadi menjadi sosok yang matang, secara psikologis capable, dan siap menjalankan semua peran kehidupan yang ada," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....