Sistem Irigasi Pertanian Berbasis Panel Surya Hadir di Kedungsari

  • 21 Sep 2026 18:02 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo — Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) gabungan dari Universitas AKPRIND Indonesia dan STIPRAM Yogyakarta menghadirkan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa Sistem Irigasi Pertanian Berbasis Panel Surya Tanpa Baterai (direct-drive system). Teknologi ini sebagai solusi masalah krisis pasokan air pertanian dan tingginya biaya operasional penyedotan air berbahan bakar minyak (BBM) saat musim kemarau di Kalurahan Kedungsari, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo.

Langkah ini merupakan bagian dari program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) - Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) untuk membantu petani di luar jangkauan irigasi teknis Kalibawang.

Dari total 133 hektar lahan pertanian di Kedungsari, terdapat 17 hektar lahan yang tidak terjangkau jaringan irigasi dan 40 hektar lahan dengan debit air yang tidak mencukupi. Kondisi ini kemudian memicu ancaman gagal panen pada masa tanam kedua.

Rektor Universitas AKPRIND Indonesia yang sekaligus Ketua Tim Pelaksana PkM, Dr. Edhy Sutanta, S.T., M.Kom., menjelaskan, inovasi ini dirancang tanpa menggunakan baterai penyimpan daya untuk mengatasi kelemahan sistem konvensional di lapangan.

“Baterai sering menjadi titik lemah dalam aplikasi di pedesaan karena harganya mahal, rentan rusak, dan memerlukan penggantian berkala yang menambah beban biaya perawatan petani. Dengan konsep direct-drive, energi sinar matahari diubah seketika menjadi arus listrik untuk memutar motor pompa sewaktu matahari bersinar. Konsep ini mampu menghemat biaya investasi awal 30 hingga 40 persen lebih murah dibanding sistem pompa surya konvensional,” ujarnya, Senin 21 September 2026.

Lebih lanjut, Edhy menerangkan, sistem ini bekerja secara efisien tanpa adanya rugi daya konversi baterai, biaya operasional yang sangat minim, serta perawatan yang tergolong mudah. Petani cukup membersihkan debu di permukaan panel surya secara berkala.

Secara teknis, instalasi irigasi berbasis panel surya ini terdiri dari :

1. Panel Surya 3 unit berkapasitas masing-masing 580 Wp (total daya 1.740 Wp).

2. Pengaman: PV Circuit Breaker DC 2 kutub rating 32A untuk mencegah hubungan arus pendek dan beban lebih.

3. Pompa: Alkon DC 1500W dengan kapasitas debit air hingga 22.000 liter per jam saat kondisi sinar matahari penuh.

4. Infrastruktur Pendukung : Menara rangka besi galvanis setinggi 5 meter tahan beban hingga 1,5 ton, tandon buffer 1.000 liter di atas menara, serta tandon penampung utama berkapasitas 40.000 liter yang mampu mencukupi kebutuhan irigasi lahan hingga 3 hari berturut-turut meski cuaca mendung.

5. Pipa : Pipa hisap/output 2.5 inci PVC dan pipa transfer gravitasi 3 inci HDPE.

Menurutnya, kehadiran teknologi ini memberikan dampak nyata bagi anggota GAPOKTAN Kedungsari. Selain memangkas biaya pengeluaran BBM dan tenaga kerja, pasokan air yang mencukupi memungkinkan petani meningkatkan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun. Hal ini sekaligus memitigasi risiko gagal panen akibat kekeringan.

Dalam program ini, Tim PkM yang terdiri atas dosen Prof. Dr. Anak Agung Putu Susastriawan, Dr. Muchlis dan Novi Irawati serta 10 mahasiswa Universitas AKPRIND Indonesia ini juga menyerahkan enam inovasi TTG pendukung lainnya. Inovasi tersebut meliputi mixer pupuk kompos, perajang rumput pakan ternak, alat pengemas (cup sealer dan vacuum sealer), pendingin produk (showcase cooler), hingga peluncuran situs Kedungsaricenter.com sebagai media promosi dan publikasi desa.

"Penerapan teknologi ini menjadi jawaban atas permasalahan krisis air. Melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat, kami mengalirkan air ke sawah warga dan mendukung petani yang mandiri energi, meningkatkan hasil panen, dan memperkuat ketahanan pangan desa secara berkelanjutan," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....