Keistimewaan DIY, Amanah Sejarah dan Tanggung Jawab Masa Depan

  • 17 Sep 2026 07:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan (UUK) Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi momentum untuk kembali meneguhkan makna keistimewaan DIY. Setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada Sabtu, 12 September 2026 malam, pesan tentang pentingnya merawat keistimewaan justru menjadi tanggung jawab bersama yang terus berlanjut.

Keistimewaan DIY tidak hanya dipandang sebagai warisan sejarah, tetapi juga amanah untuk menghadapi perubahan zaman. Nilai, budaya, dan jati diri Yogyakarta dinilai perlu tetap menjadi pijakan dalam pembangunan sekaligus kehidupan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indriyanti, saat membacakan sambutan Gubernur DIY dalam Penutupan Memetri Kaistimewan di Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta.

“Keistimewaan DIY adalah amanah sejarah sekaligus tanggung jawab masa depan. Ia perlu dijaga dengan eling lan waspada. Eling terhadap asal-usul, nilai, dan martabat budaya, waspada terhadap perubahan zaman yang bergerak cepat,” tutur Ni Made.

Menurut Ni Made, tema peringatan tahun ini, “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad”, memiliki makna dan pesan yang mendalam. Tema tersebut menggambarkan pentingnya kemuliaan hati, kemakmuran bumi, serta kewibawaan yang tumbuh dari jati diri dan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan.

“Kemuliaan hati menjadi dasar dalam membangun kehidupan sosial yang tenteram. Kemakmuran bumi mengingatkan kita bahwa pembangunan harus berpijak pada kelestarian, keadilan, dan keberlanjutan. Adapun kewibawaan di hadapan dunia lahir dari jati diri yang kukuh, karya yang bermutu, serta kemampuan masyarakat Yogyakarta untuk terus menyesuaikan diri tanpa kehilangan akar budaya,” katanya.

Ni Made mengatakan, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa upaya merawat keistimewaan perlu berjalan beriringan dengan laku eling lan waspada. Keduanya menjadi landasan bagi DIY untuk menjalankan pembangunan yang sejalan dengan kemajuan, keberlanjutan, dan kebudayaan.

“Semoga kebersamaan yang telah terbangun tidak berhenti pada seremoni, tetapi terus berlanjut dalam kebijakan, karya, pelayanan, dan perilaku sehari-hari,” ujar Ni Made.

Sementara itu, Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, menegaskan berakhirnya rangkaian peringatan 14 tahun UUK DIY bukan berarti berakhir pula tugas dan tanggung jawab seluruh pihak dalam merawat keistimewaan.

“Sebaliknya, ini adalah titik tolak bagi kita untuk menguatkan kembali langkah, mempererat sinergi, dan membawa semangat ‘memetri’ ke dalam realitas kehidupan sehari-hari,” katanya.

Kurniawan mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian kegiatan, mulai dari perangkat daerah, dinas dan instansi terkait, pemerintah kabupaten/kota, masyarakat, hingga media.

Menurutnya, terselenggaranya berbagai kegiatan hingga penutupan Memetri Kaistimewan merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk menjaga keberlanjutan keistimewaan DIY.

Selama 30 hari peringatan 14 tahun UUK DIY, tercatat kurang lebih 200 kegiatan dan acara terlaksana. Kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di tingkat provinsi, tetapi juga menyebar ke berbagai kabupaten/kota hingga kalurahan di DIY.

Rangkaian peringatan diawali dengan pembukaan Memetri Kaistimewan di Kabupaten Bantul pada Sabtu, 15 Agustus 2026, dilanjutkan acara puncak pada Senin, 31 Agustus 2026 di Kabupaten Sleman, dan ditutup di Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta, pada Sabtu, 12 September 2026.

“Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan melimpahkan berkah dan rahmat-Nya agar keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta senantiasa memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat,” tutup Kurniawan.

Dalam rangkaian penutupan tersebut juga dilaksanakan penyerahan penghargaan kepada para juara Olimpiade Bahasa dan Aksara Jawa serta Lomba Paduan Suara KORPRI DIY.

Pada Lomba Paduan Suara KORPRI DIY, juara pertama diraih Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman. Juara kedua diraih Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY, disusul Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY sebagai juara ketiga.

Sementara itu, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIY meraih juara keempat dan Balai Pendidikan Menengah Kota Yogyakarta menjadi juara kelima.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....