Gus Hilmy Dorong Keluarga Muda Kikis Stigma Disabilitas
- 03 Sep 2026 09:13 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Lokakarya Penulisan bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas yang digelar Komunitas Suku Sastra Yogyakarta di Kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI DIY mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal DIY, Dr. H. Hilmy Muhammad, MA. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan langkah positif karena mempertemukan dan melibatkan berbagai pihak dalam upaya memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Acara yang luar biasa, acara yang super-super hebat, saya memberikan apresiasi luar biasa pada apa yang Bapak Ibu semuanya lakukan pada pagi hari. Dan acara ini adalah acara yang mempertemukan banyak pihak, banyak hal, tiada lain sesungguhnya adalah untuk kemaslahatan kita semuanya, masyarakat bangsa Indonesia,” kata Gus Hilmy saat membuka rangkaian Lokakarya Penulisan bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas di Kantor DPD RI DIY, Rabu 2 September 2026.
Dalam arahannya, Gus Hilmy mengawali dengan mengutip firman Allah Swt dalam Alquran Surat Al-Isra’ ayat 70. Ia menjelaskan, memuliakan manusia pada hakikatnya berarti menempatkan setiap manusia secara setara, menghormati hak asasi, serta menghindarkan segala bentuk kesewenangan dan perlakuan yang tidak adil.
“Jadi, ayat itu kalau kita cermati, dimulai dengan penguat. Ada laqod yang artinya ‘sungguh benar-benar’. Karramna, kami memuliakan Bani Adam. Allah memuliakan seluruh anak manusia. Allah menciptakan manusia segala sesuatunya itu fi ahsani taqwim, dalam penciptaan yang sempurna, yang paling baik, yang mengarahkan semuanya, semua makhluk, ini adalah manusia,” ucap Gus Hilmy.
Kepada para orang tua yang mengikuti lokakarya, salah satu Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu berpesan agar memiliki kebesaran hati dalam menerima takdir. Takdir, menurutnya, dapat dimaknai sebagai pengetahuan atas ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah Ta’ala.
“Kalau kemudian ada di antara kita diberikan putra atau turunan yang dalam keadaan difabel, maka itu semua adalah ujian. Di sisi lain, juga merupakan anugerah. Tugas kita adalah menerima takdir itu. Sebagaimana ungkapan penyair ‘Bila Anda rela dengan apa yang menjadi ketentuan Allah, maka Anda akan merasa nyaman menjalani hidup. Sebaliknya, bila Anda tidak rela dengan apa yang sudah dibagi oleh Allah, Anda justru akan merasa hidup Anda senantiasa dalam kesusahan’,” kata dia.
Selain itu, Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY tersebut menilai penting bagi orang tua untuk memberikan pemahaman kepada anak mengenai cara menyikapi takdir. Hal ini termasuk ketika anak harus menghadapi perundungan atau bullying dari teman-temannya.
“Orang tua juga penting untuk memahamkan takdir tersebut kepada anak, bagaimana menyikapi ini. Di antaranya dengan cara menyalurkan apa yang dirasakan secara positif tanpa perlu membanding-bandingkan kondisi anak dengan yang lain,” ujar Gus Hilmy.
Gus Hilmy juga menyoroti pentingnya mendokumentasikan sekaligus menuliskan pengalaman nyata yang dialami keluarga dengan anak penyandang disabilitas. Menurutnya, tulisan dari pengalaman langsung para orang tua dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi stigma negatif di masyarakat, sekaligus meningkatkan literasi mengenai disabilitas.
“Dengan membaca tulisan Bapak Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’ Mungkin menjadi salah satu alternatif cara dalam memperlakukan anak disabilitas. Melalui penulisan pengalaman nyata oleh para orang tua, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami cara penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat, sehingga stigma yang melekat pada penyandang disabilitas dapat dikikis secara bertahap. Stigma negatif ini berkaitan dengan masih kurangnya literasi mengenai disabilitas,” ucapnya.
Sementara itu, Ketua Suku Sastra, Fairuzul Mumtaz, mengatakan lokakarya tersebut akan berlangsung selama satu bulan di Gedung DPD RI DIY. Kegiatan ini mendapat dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Program tersebut juga terlaksana melalui kerja sama dengan Komunitas Bawayang.
“Selama satu bulan, para orang tua akan didampingi untuk menulis karya sastra dan akan dibukukan. Ini menjadi hal penting, selain untuk penguatan literasi bagi masyarakat umum terkait disabilitas, juga menyumbangkan narasi-narasi baru bagi hazanah karya sastra Indonesia,” kata Fairuz.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....