Menggali Tradisi Lisan Jawa Sebagai Sumber Kekayaan Budaya di FSY 2026
- 29 Agt 2026 05:55 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Tradisi lisan yang tumbuh dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya sastra. Hal ini terungkap dalam Workshop Sastra Jawa SMA bertajuk "Ejawantahkan Tradisi Jawa dalam Karya Sastra" di Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026, Kamis, 27 Agustus 2026.
Kegiatan yang menjadi bagian dari hari kelima FSY 2026 tersebut digelar kerja sama dengan Balai Bahasa Provinsi DIY di Panggung Pasar Sastra, Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, pukul 13.00 hingga 15.00 WIB. Workshop menghadirkan Dr. Dra. Daru Winarti, M.Hum. dan Dr. Avi Meilawati, M.A. dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) DIY sebagai narasumber. Kegiatan dibuka oleh Drs. Umar Solikhan, M.Hum. Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY dan dimoderatori Samantha Aditya Putri, M.A.
Dalam pemaparannya, Daru menjelaskan, tradisi lisan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk kesenian, tetapi juga dapat ditemukan dalam ungkapan, cerita, dan kebiasaan yang tumbuh di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Salah satu contoh yang disampaikan Daru adalah ungkapan, "Kalau makan dihabiskan, nanti nasinya menangis." Ungkapan sederhana tersebut menunjukkan bagaimana pesan dan nilai dapat diwariskan dari generasi ke generasi melalui tuturan sehari-hari.
Daru juga mengenalkan beragam bentuk tradisi lisan Jawa, mulai dari cerita rakyat, puisi rakyat, sajak rakyat, hingga geguritan. Menurutnya, keberagaman tradisi tersebut menjadi salah satu kekayaan budaya yang dapat terus digali.
"Kekayaan kita adalah tradisi lisan. Kita memiliki tradisi lisan yang beragam," ujarnya.
Pembahasan kemudian mencakup berbagai jenis cerita rakyat dan dongeng, seperti mite atau mitos yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap makhluk gaib, legenda mengenai asal-usul suatu tempat, sage yang berkaitan dengan peristiwa sejarah, fabel dengan tokoh binatang, cerita jenaka, hingga epos yang mengisahkan kepahlawanan.
Menggali Cerita dari Lingkungan Sekitar
Materi selanjutnya disampaikan Avi Meilawati yang mengajak peserta menggali cerita dari lingkungan sekitar sebagai sumber gagasan dalam menulis. Menurutnya, cerita yang berkembang di masyarakat, termasuk mitos dan kisah yang diwariskan secara turun-temurun, dapat menjadi bahan untuk menciptakan karya sastra.
Sebagai contoh, Avi menceritakan mitos yang berkembang di desanya mengenai pohon pisang. Ia mengatakan, di desanya pohon pisang tidak banyak ditanam, tetapi dapat ditemukan di sekitar kali atau sungai.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat setempat, keadaan tersebut berkaitan dengan kisah seorang putri yang terpeleset karena pohon pisang. Kisah tersebut, menurut Avi, dapat menjadi contoh bagaimana cerita yang tumbuh di masyarakat dapat dikembangkan menjadi sebuah dongeng.
Avi juga mengajak para peserta mendiskusikan cerita horor yang pernah mereka dengar atau temui di daerah masing-masing. Interaksi tersebut mendorong peserta untuk menggali pengalaman dan cerita yang dekat dengan kehidupan mereka sebagai bahan untuk mengembangkan gagasan.
Setelah mendapatkan materi dan berdiskusi, para siswi SMK Negeri 4 Yogyakarta, khususnya dari jurusan kecantikan, diminta menulis dongeng sepanjang 100 kata dengan tema cerita rakyat atau dongeng. Karya yang telah dibuat kemudian diunggah melalui akun TikTok masing-masing sebagai bagian dari proses penilaian.
Antusiasme peserta terlihat melalui interaksi dan diskusi selama kegiatan. Para siswi tidak hanya mendengarkan pemaparan narasumber, tetapi juga diajak menemukan berbagai cerita yang selama ini tumbuh di lingkungan mereka.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Ismawati Retno mengatakan, tradisi lisan merupakan kekayaan budaya yang memiliki banyak kemungkinan untuk terus diolah dan dikembangkan. Ia menilai, generasi muda perlu didorong untuk tidak hanya mengenal tradisi lisan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga melihatnya sebagai sumber gagasan yang dapat melahirkan karya baru.
"Tradisi lisan menyimpan banyak cerita, pengalaman, nilai, dan cara pandang masyarakat. Ketika generasi muda mau menggali cerita yang ada di sekitarnya, mereka sebenarnya sedang menemukan sumber yang sangat dekat untuk menciptakan karya sastra," katanya.
Ismawati mengatakan, workshop tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mengalami secara langsung proses mengubah cerita yang didengar dan diwariskan dalam kehidupan sehari-hari menjadi karya sastra.
"Yang penting bukan sekadar mengingat cerita lama, tetapi bagaimana tradisi itu dapat diejawantahkan kembali melalui kreativitas generasi sekarang. Dengan begitu, tradisi lisan tidak berhenti sebagai warisan, tetapi terus hidup dan menemukan bentuk baru," ucapnya.
Workshop tersebut menjadi salah satu upaya mempertemukan tradisi lisan dengan kreativitas generasi muda dalam rangkaian FSY 2026. Melalui kegiatan tersebut, peserta diajak memahami bahwa cerita yang tumbuh di sekitar mereka dapat menjadi pintu untuk mengenal kebudayaan sekaligus melahirkan karya sastra.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....