Memetri Jogja Merawat Nusantara, 14 Tahun Keistimewaan DIY

  • 01 Sep 2026 13:05 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Peringatan 14 tahun Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diwarnai berbagai kegiatan seni pertunjukan yang digelar sejumlah komunitas. Salah satunya berlangsung di kawasan Malioboro pada Minggu, 30 Agustus 2026 kemarin, yang diselenggarakan Sekber Keistimewaan DIY.

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, mengatakan kegiatan bertajuk 'Memetri Jogja Merawat Nusantara' tersebut dikemas melalui berbagai pertunjukan seni dengan panggung utama berada di depan Toko Hamzah Batik Malioboro.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Sekber Keistimewaan DIY, Paguyuban Lurah dan Pamong DIY Nayantaka, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah DIY, serta komunitas Malioboro.

"Esensi acara ini adalah pertama, merawat ingatan kolektif bahwa sejarah asal-usul Yogyakarta sebagai kerajaan adalah pondasi utama status keistimewaan DIY. Selain itu, kami ingin menegaskan kembali, status Keistimewaan bukanlah hadiah, melainkan hasil sintesis panjang buah pergulatan sejarah, komitmen kebangsaan, serta pengakuan hukum atas tatanan Kasultanan yang mengakar jauh sebelum RI," ujarnya.

Widihasto mengatakan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat jejaring lintas komponen masyarakat. Konsolidasi tersebut dinilai penting sebagai modal bersama dalam menjaga dan merawat nilai serta semangat ke-Yogyakarta-an sekaligus memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selain kegiatan seni dan budaya, penyelenggara juga menggelar penggalangan donasi bagi korban bencana alam di NTT. Kegiatan tersebut dilengkapi dengan doa lintas agama sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas kemanusiaan.

Rangkaian acara diawali penampilan Sanggar Biola Quinta. Sebanyak 50 pemain biola membawakan sejumlah lagu nasional dan daerah. Pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan fragmen drama Spiritual Art yang menggambarkan perjuangan dalam proses menuju pengesahan UUK DIY.

Pertunjukan seni berikutnya menampilkan Tari Pujiastuti dari Tamanmartani, Kalasan, Sleman, kemudian Tari Angguk Nganglang dari Sanggar Lestari Budaya Imogiri, Bantul.

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma juga turut tampil dan mendapat perhatian penonton. Tidak hanya menghadirkan kesenian khas DIY, kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi budaya dari sejumlah daerah di Indonesia.

Sejumlah penampilan di antaranya Tari Bawin dari Sanggar Hamaring Kalimantan Tengah, Tari Tunggal dari Forum Pemuda Pemudi Dayak Kalimantan, serta Tari Bidu Elele dari Ikatan Keluarga Malaka NTT.

Ikrar Keistimewaan

Salah satu agenda utama dalam peringatan tersebut adalah pembacaan Ikrar Keistimewaan. Ikrar tersebut berisi komitmen untuk menjunjung cita-cita luhur para pendiri Yogyakarta melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan semangat Golong Gilig sebagai pedoman dalam membangun peradaban.

Widihasto menjelaskan, ikrar tersebut sekaligus menegaskan tekad untuk menjaga jati diri masyarakat Yogyakarta yang inklusif, nasionalis, dan berbudaya. Nilai kepemimpinan Tahta untuk Rakyat juga menjadi bagian dari komitmen yang disampaikan.

"Komitmen ini kemudian diperluas melalui semangat kolaborasi untuk menjaga kelestarian Yogyakarta dan keutuhan NKRI. Keistimewaan DIY juga ditegaskan untuk didedikasikan bagi kejayaan Nusantara," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....