LPS Dukung Keistimewaan DIY lewat Kenduri Memetri di Tamanmartani

  • 02 Sep 2026 12:00 WIB
  •  Yogyakarta
RRI.CO.ID, SLEMAN — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mendukung pelestarian nilai-nilai Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada peringatan HUT ke-14 Undang-Undang Keistimewaan DIY. Dukungan ini diwujudkan melalui kegiatan Kenduri Memetri Keistimewaan di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman pada Senin, 31 Agustus 2026.

Plt. Kepala Divisi Kehumasan LPS Rhein Valleno Oktoriansyah menyampaikan bahwa nilai luhur Keistimewaan DIY perlu terus dijaga agar menjadi inspirasi dalam tata kelola pembangunan yang mengutamakan kepentingan masyarakat.

"LPS berharap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi Keistimewaan DIY dapat terus lestari dan menjadi inspirasi tata kelola pembangunan yang mengutamakan kepentingan masyarakat," katanya di Sleman.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, pelaku budaya, UMKM, dan lembaga negara guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan sesuai filosofi Mulyaning Manah, Mukti Ing Bumi, Wibawaning Jagad.

"Kami meyakini bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat Yogyakarta secara berkelanjutan," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY Ariyanti Luhur Tri Setyarini menegaskan bahwa keistimewaan dan kebudayaan tidak boleh hanya berhenti pada status atau seremoni semata, melainkan harus menjadi cara berpikir dan landasan menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.
"Keistimewaan harus mampu menjadi instrumen untuk menjawab persoalan nyata, memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat, menjaga ruang hidup, merawat lingkungan, mengembangkan kebudayaan, serta memperkuat kehidupan bersama," ucapnya.


Lurah Tamanmartani R. Gandang Hardjanata menambahkan bahwa perayaan ini menegaskan keistimewaan sebagai milik seluruh warga. Rangkaian acara dimeriahkan dengan penyerahan lima jodhang hasil bumi mewakili empat kabupaten dan satu kota di DIY, kirab budaya 22 pedukuhan, pembelajaran sejarah untuk pelajar, hingga festival wowongan sawah.
"Keistimewaan itu wujud nyata bahwa bukan hanya milik pemerintah daerah ataupun Keraton, tetapi milik masyarakat Jogja," katanya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....