Menajamkan Kata, Mengendapkan Pengalaman dalam Workshop Penulisan Puisi “LAKU”

  • 28 Agt 2026 00:12 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta — Puluhan pegiat sastra, mahasiswa, dan pencinta puisi mengikuti Workshop Penulisan Puisi “LAKU” di Ruang Wijaya Kusuma, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin, 24 Agustus 2026. Workshop yang menghadirkan penyair Mutia Sukma sebagai narasumber tersebut membahas proses penciptaan puisi, mulai dari menemukan gagasan, mengolah pengalaman, memilih kata, hingga menyunting karya.

Workshop menjadi bagian dari rangkaian Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 yang mengusung tema “LAKU”. Tema tersebut menjadi pijakan dalam melihat proses kreatif bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi juga sebagai proses mengamati, mengalami, mengendapkan, dan memberi makna terhadap kehidupan.

Mutia Sukma merupakan penyair yang menempuh pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta dan Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada. Sejumlah buku puisinya, antara lain Pertanyaan-pertanyaan tentang Dunia, Cinta dan Ingatan, dan Harum Serbuk Tembok, mendapat perhatian dalam berbagai ajang dan media sastra.

Karya-karya Mutia juga telah dimuat di sejumlah media, seperti Kompas, Tempo, dan Jawa Pos. Selain berkarya, Mutia aktif mengajar dan meneliti serta mengelola toko buku dan penerbitan JBS di Bantul, Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Mutia menekankan, bahwa menulis puisi bukan proses instan yang semata-mata bergantung pada inspirasi. Penciptaan puisi membutuhkan pengamatan, kepekaan indrawi, serta pengendapan pengalaman batin.

“Menulis puisi adalah sebuah laku hidup. Prosesnya dimulai jauh sebelum pena menyentuh kertas atau jemari menekan kibor. Ia lahir dari keberanian kita untuk berhenti sejenak, mengamati, merasakan, dan mengendapkan realitas yang sering kali diabaikan oleh rutinitas harian,” ujarnya.

Pada sesi awal, Mutia mengajak peserta membongkar sejumlah anggapan tentang proses menulis yang kerap menjadi hambatan bagi penulis pemula. Peserta diarahkan untuk tidak terlalu bergantung pada diksi yang abstrak atau penggunaan kata sifat, tetapi memperkuat puisi melalui kata benda dan kata kerja yang spesifik.

Menurut Mutia, gagasan seperti rindu, kehilangan, atau kesepian perlu diolah menjadi pengalaman yang lebih konkret. Dengan demikian, pembaca tidak hanya diberi tahu tentang sebuah perasaan, tetapi diajak melihat, mendengar, menyentuh, atau merasakan pengalaman tersebut melalui imaji.

Pendekatan itu kemudian dipraktikkan dalam sesi penulisan terpandu. Peserta menggunakan berbagai pemantik indrawi untuk menyusun draf puisi secara mandiri. Mereka juga diajak menerapkan prinsip ekonomi bahasa dengan memangkas kata-kata yang tidak diperlukan sehingga setiap kata memiliki fungsi dalam membangun keseluruhan puisi.

Workshop berlanjut dengan klinik puisi dan penyuntingan langsung. Draf karya peserta dibaca dan dibedah untuk melihat pilihan kata, ritme, pemenggalan baris atau enjambemen, serta ketepatan dan ketajaman makna.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Ismawati Retno mengatakan, workshop tersebut menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan sastra sebagai praktik yang dekat dengan kehidupan.

“Melalui workshop ini, peserta tidak hanya belajar bagaimana menulis puisi, tetapi juga belajar mengolah pengalaman menjadi pengetahuan dan kemudian menjadi karya. Inilah yang kami maknai sebagai laku, ada proses mengalami, mengendapkan, lalu menyampaikan kembali dengan bahasa,” katanya.

Menurut Ismawati, sastra membutuhkan proses yang tidak selalu dapat berlangsung secara instan. Karena itu, ruang belajar dan perjumpaan antara penulis, penyair, dan pembaca penting untuk terus dihadirkan dalam ekosistem sastra di Yogyakarta.

“Yang ingin kami bangun melalui Festival Sastra Yogyakarta bukan hanya peristiwa sastra, tetapi juga ekosistem belajar. Ada kesempatan untuk membaca, menulis, berdiskusi, dan bertemu dengan para penulis. Dari proses semacam itu, sastra dapat menjadi bagian dari laku kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Suasana workshop semakin intensif ketika peserta memasuki sesi praktik dan klinik karya. Peserta memperoleh kesempatan untuk menguji langsung gagasan yang telah ditulis sekaligus melihat bagaimana sebuah puisi dapat dipadatkan tanpa kehilangan pengalaman dan emosinya.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menghasilkan draf puisi baru, tetapi juga memperoleh metode yang dapat digunakan untuk berlatih secara mandiri. Workshop “LAKU” sekaligus menegaskan bahwa menulis puisi bukan sekadar mencari kata-kata yang indah, melainkan menemukan kata yang tepat untuk menyimpan pengalaman dan memberi makna pada kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....