Atasi Stunting, KKN UGM Olah Potensi Lele Jadi Abon Sangrai

  • 27 Agt 2026 00:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Banyuwangi — Melimpahnya potensi budidaya lele di Desa Tampo, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, dimanfaatkan mahasiswa KKN-PPM UGM untuk mengembangkan inovasi pangan berupa abon lele sangrai. Produk tersebut dihadirkan sebagai salah satu upaya mendukung pencegahan stunting sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil budidaya lele masyarakat.

“Kami menggabungkan dua persoalan menjadi program kerja, yaitu pembuatan inovasi produk pangan untuk pencegahan stunting yang berkolaborasi dengan ibu-ibu Kelompok Wanita Tani,” ujar Doni Ananda Pangestu dari Program Studi Teknologi Industri Pertanian saat ditemui, Senin, 24 Agustus 2026.

Doni mengatakan, lele dipilih karena Desa Tampo memiliki potensi budidaya ikan tersebut yang cukup besar. Selain itu, terdapat ikan lele afkir atau induk yang sudah tidak produktif dan selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

"Sejauh ini cuma dijual mentahan, sehingga mungkin dalam penjualannya masih kurang. Kita berusaha untuk masuk ke situ agar produk lelenya juga memiliki nilai tambah," katanya.

Melalui program tersebut, mahasiswa KKN-PPM UGM mengolah lele menjadi abon dengan metode sangrai, tanpa menggunakan minyak dalam proses pengolahannya. Metode tersebut dipilih agar produk dapat menjadi alternatif pangan yang mendukung upaya pencegahan stunting.

Tidak hanya abon, tim KKN juga mengembangkan sejumlah produk olahan lain berbahan dasar lele, seperti cookies dan brownies.

Doni menjelaskan, protein hewani memiliki peran penting dalam upaya pencegahan stunting karena mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Pemanfaatan lele sebagai bahan pangan olahan diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Selain menghasilkan produk pangan, KKN-PPM UGM Kerincing Cluring juga berupaya mengoptimalkan pemanfaatan limbah dari proses pengolahan lele. Tulang ikan yang sebelumnya menjadi limbah diolah menjadi pupuk organik cair atau POC.

“Sebenarnya programnya ada pengolahan limbahnya juga. Tulang lele menjadi POC,” ujarnya.

Doni menambahkan, produk abon lele yang telah dihasilkan selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan melalui kader Posyandu untuk diberikan kepada sasaran program di Desa Tampo.

Untuk saat ini, distribusi masih terbatas di satu desa. Ke depan, program tersebut diharapkan dapat dikembangkan sehingga manfaat produk olahan lele dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu, Pendiri Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklahsar) Desa Tampo, Irma Yunita, mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN-PPM UGM.

Irma mengatakan, Poklahsar Desa Tampo sebelumnya telah memproduksi abon lele dengan metode penggorengan. Kehadiran mahasiswa KKN memberikan alternatif pengolahan melalui metode sangrai.

"Kalau yang sangrai itu miliknya anak KKN. Kalau produk kami yang lama itu digoreng pakai minyak, kemudian di-spin. Anak-anak KKN membuat model sangrai," katanya.

Menurut Irma, abon lele sangrai memiliki keunggulan karena tidak menggunakan minyak dalam proses pengolahannya. Produk tersebut dinilai lebih sesuai untuk dikonsumsi anak-anak, terutama balita, sekaligus mendukung program pencegahan stunting yang dijalankan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

"Kalau sangrai itu tanpa minyak, lebih non kolesterol. Cocok untuk anak-anak, banyak anak balita yang suka," ujarnya.

Irma berharap inovasi abon lele sangrai dapat terus dikembangkan dan diproduksi dalam skala yang lebih besar. Selama ini, pemasaran produk Poklahsar Desa Tampo banyak dilakukan melalui Posyandu. Produk olahan baru tersebut nantinya juga akan diperkenalkan kepada masyarakat melalui Taman Posyandu.

Ia menjelaskan, Poklahsar Desa Tampo merupakan kelompok pengolah dan pemasar hasil perikanan yang berada di bawah binaan Dinas Perikanan Kabupaten Banyuwangi. Kelompok tersebut sekaligus menjadi wadah pemberdayaan perempuan di desa melalui kegiatan produksi yang dilakukan setiap akhir pekan.

Dalam satu kali produksi, Poklahsar mengolah sekitar 15–20 kilogram lele dan menghasilkan kurang lebih 2,5 kilogram abon. Produk abon tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp25.000 per 100 gram.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....