Sri Sultan: Kampus Berkelanjutan Tak Sekadar Ruang Hijau

  • 16 Sep 2026 14:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Sleman - Kampus berkelanjutan tidak cukup hanya ditandai dengan banyaknya pepohonan, gedung hemat energi, atau pengurangan sampah. Keberlanjutan juga harus tercermin dalam tata kelola kampus, pengembangan ilmu pengetahuan, hingga kebiasaan mahasiswa yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti pada UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026 di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa, 15 September 2026.

Sri Sultan menegaskan, konsep kampus berkelanjutan harus diterapkan secara menyeluruh, mulai dari tata kelola, operasional, pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga akuntabilitas publik.

Kegiatan yang mengusung tema Advancing Sustainable Campuses through Governance, Digitalization, and Integrated Performance tersebut diikuti lebih dari 350 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Ketua Panitia UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026, Indra Wijaya Kusuma mengatakan, digitalisasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai program keberlanjutan dapat berjalan secara efektif dan terukur.

"Digitalisasi bukan sekadar alat, tetapi menjadi jembatan agar upaya keberlanjutan dapat berjalan efektif dan terukur,” ujar Indra.

Menurut Indra, UI GreenMetric tidak hanya berfungsi sebagai ajang pemeringkatan perguruan tinggi. Instrumen tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tolok ukur bagi kampus untuk saling belajar, membandingkan praktik baik, sekaligus mengevaluasi kinerja keberlanjutan.

Dengan demikian, capaian dalam bentuk angka dan indikator tidak berhenti pada pemenuhan administrasi, tetapi dapat digunakan untuk melihat perubahan nyata yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi.

Sultan juga mengingatkan, konsep keberlanjutan bukan hal baru bagi Indonesia. Berbagai kearifan lokal, seperti Subak di Bali, Sasi di Maluku, Tana’ Ulen di Kalimantan, Igya Ser Hanjop di Papua, Panglima Laot di Aceh, dan Leuweung Larangan di tanah Sunda, telah menunjukkan praktik masyarakat Nusantara dalam menjaga keseimbangan alam.

Tak hanya soal SDA

Kearifan lokal tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan sumber daya alam. Di dalamnya terdapat unsur aturan, kelembagaan, kepemimpinan, pengawasan, serta kesediaan mengendalikan kepentingan jangka pendek demi kepentingan masa depan.

Di lingkungan kampus, UI GreenMetric menjadi salah satu instrumen untuk menerjemahkan komitmen keberlanjutan tersebut ke dalam indikator yang dapat diukur.

Komitmen kemudian perlu diterjemahkan menjadi program, dipantau melalui data, dan dievaluasi berdasarkan perubahan yang terjadi. Digitalisasi turut memperkuat transparansi sekaligus membantu seluruh unsur kampus bergerak dalam arah yang sama.

Jadi Center of Exellence

Urgensi penerapan keberlanjutan juga semakin besar seiring berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi Indonesia. Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih menyampaikan, risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat akibat kondisi iklim serta aktivitas manusia.

Menurutnya, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset dan pengembangan teknologi. Upaya tersebut antara lain pemantauan titik panas berbasis satelit, pemantauan lahan gambut, penguatan masyarakat peduli api, hingga dukungan terhadap pencegahan kebakaran.

"Perguruan tinggi juga didorong menjadi Center of Excellence yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebijakan serta teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Kolaborasi dapat dilakukan melalui KKN Tematik, magang, rehabilitasi lahan, konservasi, perhutanan sosial, serta pengembangan keanekaragaman hayati," ucapnya.

Di UGM, konsep tersebut diterapkan dengan menjadikan kawasan kampus sebagai living laboratory. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM Wening Udasmoro menyampaikan sejumlah program, di antaranya pemantauan sampah, pengembangan bangunan hijau, pengurangan emisi melalui transportasi dan efisiensi energi, serta penggunaan smart water meter.

Ramah bagi disabilitas

UGM juga mengembangkan lingkungan kampus yang sehat, aman, dan ramah bagi penyandang disabilitas.

Sementara itu, Ketua UI GreenMetric Vishnu Juwono menilai keberhasilan perguruan tinggi dalam menjalankan prinsip keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh jumlah program yang dilakukan, tetapi juga kemampuan mengubah perilaku dalam skala luas.

Pengurangan penggunaan listrik di lingkungan kampus, misalnya, dapat berdampak terhadap efisiensi energi. Namun, perubahan kebiasaan ribuan mahasiswa dinilai memiliki dampak jangka panjang karena pengetahuan dan perilaku tersebut berpotensi dibawa ketika mereka kembali ke masyarakat.

Sebab itu, keberlanjutan tak hanya mengandalkan satu proyek maupun sekelompok orang. Seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari tata kelola, fasilitas, laboratorium, kantin, penganggaran, hingga proses pembelajaran, perlu menjadi bagian dari satu ekosistem keberlanjutan.

Sri Sultan mengaitkan upaya tersebut dengan filosofi Jawa Hamemayu Hayuning Bawana. Perguruan tinggi diharapkan mampu mendorong pengurangan emisi, pengelolaan air, penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah, mobilitas rendah karbon, serta penelitian yang mampu menjawab persoalan ekologis secara nyata.

Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta memiliki posisi strategis untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai laboratorium peradaban hijau. Kampus diharapkan tidak hanya menjadi tempat pengembangan teori dan teknologi, tetapi juga ruang pembentukan generasi yang memiliki kesadaran serta tanggung jawab dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.

Pemeringkatan UI GreenMetric pada akhirnya bukan menjadi tujuan akhir. Hasil pemeringkatan dapat menjadi cermin bagi perguruan tinggi untuk melihat perkembangan sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Tantangan utamanya adalah menjaga agar komitmen keberlanjutan tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi bagian dari keputusan dan kebiasaan sehari-hari di lingkungan kampus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....