SPs UGM Dorong Transformasi Kurikulum Ketahanan Nasional

  • 29 Jul 2026 17:31 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong penguatan pendidikan ketahanan nasional melalui transformasi kurikulum yang adaptif terhadap dinamika global. Langkah tersebut dinilai penting untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki pemikiran strategis di tengah perubahan cepat.

Pandangan ini mengemuka dalam Seminar Nasional Transformasi Kurikulum bertajuk "Membangun Ekosistem Ilmu Ketahanan Strategis Bangsa" di ruang seminar SPs UGM pada Senin, 27 Juli 2026.

Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan RI Sabrang Mowo Damar Panuluh mengatakan pendidikan ketahanan nasional perlu membangun pemahaman mendasar mengenai alasan mempertahankan Indonesia. Menurutnya, pendekatan tersebut membantu mengidentifikasi ancaman yang terus berkembang.

"Kita harus menemukan akar. Kenapa harus mempertahankan Indonesia? Apa yang dipertahankan? Baru kemudian kita bisa mengidentifikasi ancaman," ujarnya.

Sabrang menjelaskan tantangan bangsa kini makin beragam, mulai dari politik, ekonomi, hingga kecerdasan artifisial yang memengaruhi pengambilan keputusan. Perguruan tinggi pun perlu menghadirkan sistem pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

"Kalau cara pendidikannya tidak berubah, saya jamin ketinggalan. Satu-satunya hukum untuk survival adalah adaptasi," katanya.

Seminar Nasional Transformasi Kurikulum bertajuk Membangun Ekosistem Ilmu Ketahanan Strategis Bangsa untuk Meneguhkan Kejayaan Indonesia Raya Menuju Abad Kedua Kemerdekaan yang digelar di ruang seminar Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Senin, 27 Juli 2026. (Foto: Humas SPs UGM)

Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat Mayjen TNI Agustinus Purboyo menilai konsep pertahanan saat ini melibatkan seluruh unsur bangsa. Perubahan geopolitik, perang informasi, dan ancaman nonmiliter menuntut pendekatan terpadu.

"Pertahanan modern bukan hanya kekuatan militer, tetapi kemampuan mengintegrasikan seluruh instrumen nasional untuk bisa diorkestrasi menjadi satu harmoni yang indah agar kita bisa mempertahankan Indonesia," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta penghapusan ego sektoral demi memperkuat daya tahan bangsa.

Ketua Umum FKUB Indonesia Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet menambahkan bahwa kerukunan menjadi fondasi utama dalam menjaga persatuan dan ketahanan nasional.

"Dengan kerukunan kita akan bisa menjaga persatuan kita. Dengan kerukunan yang kokoh barulah kita bisa membangun bangsa," katanya.

Dekan SPs UGM Siti Malkhamah menyampaikan transformasi kurikulum bukan sekadar penyusunan materi, melainkan instrumen pembentuk ekosistem ilmu pengetahuan, riset, kepemimpinan, hingga jejaring kebijakan.

"Kurikulum tidak boleh dipahami sebagai susunan materi. Kurikulum harus menjadi arsitektur pembentukan ilmu, riset, kepemimpinan, sistem peringatan dini, dan jejaring kebijakan," ujarnya.

Ketua Prodi Magister dan Doktor Ilmu Ketahanan Nasional SPs UGM Priyono Suryanto menjelaskan pembaruan kurikulum dilakukan melalui kajian terhadap teori, lingkungan strategis, dan kurikulum perguruan tinggi luar negeri.

"Hasil kajian tersebut menjadi dasar penyusunan arah baru pendidikan Ilmu Ketahanan Nasional yang lebih responsif terhadap tantangan global. Momentum strategis ini kita gunakan dalam rangka transformasi kurikulum," ucapnya.

Menurut Priyono, program magister akan diperkuat laboratorium intelijen dan strategi untuk antisipasi krisis, sedangkan program doktor difokuskan pada pengembangan paradigma ilmu baru.

"Di laboratorium intelijen itulah ekosistem dibangun sehingga navigator crisis bisa dihadirkan," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....