DIY Jadi Tuan Rumah Pertukaran Pembelajaran Ketangguhan Bencana ASEAN
- 28 Jul 2026 18:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tuan rumah pelaksanaan ASEAN-PRIME Cross-Learning Exchange 3, forum pertukaran pengetahuan mengenai pengelolaan risiko bencana yang inklusif di kawasan Asia Tenggara. Kegiatan yang berlangsung pada 27-31 Juli 2026 ini merupakan bagian dari kerja sama regional yang didukung Pemerintah Kanada.
Mewakili Gubernur DIY, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X membuka kegiatan tersebut pada Senin, 27 Juli 2026, di Hotel Meliá Purosani Yogyakarta. Dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakannya, Paku Alam X menyampaikan bahwa penanganan bencana kini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan yang hanya terjadi di tingkat lokal.
Menurutnya, meningkatnya kompleksitas risiko membuat setiap negara perlu saling belajar dan berbagi pengalaman. Ketangguhan menghadapi bencana tidak cukup dibangun melalui pengalaman sendiri, tetapi juga melalui kolaborasi lintas wilayah dan lintas negara.
Selain itu, ia menilai keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada infrastruktur, teknologi, maupun peralatan. Tata kelola yang baik, koordinasi antarlembaga, kepercayaan di antara para pemangku kepentingan, serta keterlibatan aktif masyarakat justru menjadi faktor penting dalam memperkuat kesiapsiagaan.
“Di sinilah ASEAN-PRIME Cross-Learning Exchange menemukan relevansi dan urgensinya. Istilah Cross Learning Exchange sendiri mengandung pengertian bahwa pengetahuan tentang bencana tidak boleh stagnan, melainkan harus terus diperbarui melalui pertukaran pengalaman dan pembelajaran bersama,” kata Sri Paduka pada Senin, 27 Juli 2026 di Hotel Meliá Purosani Yogyakarta.
Sri Paduka mengatakan forum tersebut tidak sekadar menjadi wadah berbagi praktik baik, tetapi juga ruang untuk memahami beragam pendekatan yang diterapkan negara, daerah, maupun komunitas dalam menghadapi tantangan kebencanaan. Menurutnya, pertukaran perspektif sering kali melahirkan solusi baru yang sebelumnya belum terpikirkan.
“Yang dipertukarkan bukan hanya pengetahuan, melainkan juga perspektif. Dan sering kali, perspektif baru itulah yang membuka kemungkinan solusi yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Semoga forum ini memperkuat jejaring pembelajaran, memperkaya wawasan bersama, serta semakin memperkokoh komitmen ASEAN untuk membangun kawasan yang lebih aman, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi berbagai risiko di masa depan,” ujar Sri Paduka.
Sementara itu, Director of Operations AHA Centre, Dr. Sithu Pe Thein, menjelaskan rangkaian Cross-Learning Exchange telah berlangsung di beberapa negara ASEAN. Pada penyelenggaraan pertama di Vietnam, peserta mempelajari integrasi aspek perlindungan, kesetaraan gender, inklusi, adaptasi perubahan iklim, dan keberlanjutan lingkungan dalam sistem manajemen bencana. Program kemudian berlanjut di Filipina dengan fokus pada implementasi kebijakan tersebut melalui sistem pemerintahan nasional dan daerah.
Menurutnya, penyelenggaraan di Indonesia diarahkan untuk melihat bagaimana kebijakan dan kerangka kerja tersebut diterapkan secara nyata di tingkat komunitas. Ia menilai masyarakat selalu menjadi garda terdepan ketika bencana terjadi, jauh sebelum bantuan dari luar datang.
Dr. Sithu Pe mengatakan komunitas memiliki peran penting dalam proses evakuasi, perlindungan kelompok rentan, menjaga mata pencaharian, hingga membangun solidaritas saat menghadapi krisis. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem penanggulangan bencana.
“Kita berkumpul di Yogyakarta karena provinsi ini menawarkan lingkungan belajar yang unik dimana ketahanan terhadap bencana dibangun melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, komunitas, organisasi masyarakat sipil, akademisi, organisasi keagamaan, dan mitra pembangunan. Selama bertahun-tahun, Yogyakarta telah mengembangkan ekosistem manajemen risiko bencana berbasis komunitas yang menunjukkan bagaimana ketahanan dapat diperkuat melalui kemitraan, kepemimpinan lokal, dan tanggung jawab bersama,” kata Dr. Sithu Pe.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta dijadwalkan mengunjungi berbagai lokasi untuk mempelajari praktik penanggulangan bencana di Yogyakarta. Pembelajaran meliputi sistem manajemen bencana nasional dan daerah, kesiapsiagaan masyarakat, mekanisme evakuasi yang inklusif, pendekatan adaptif terhadap perubahan iklim, hingga pengelolaan jaringan relawan.
“Setiap kunjungan telah dirancang dengan cermat untuk menunjukkan bagaimana berbagai pemangku kepentingan berkontribusi dalam membangun komunitas yang tangguh, dan bagaimana pendekatan yang berhasil dapat di institusionalisasi dan ditingkatkan melalui kemitraan, jaringan, dan kepemilikan lokal,” ucap Dr. Sithu Pe.
Ia menambahkan, tujuan utama Cross-Learning Exchange 3 bukan untuk menampilkan model penanganan bencana tertentu, melainkan menggali prinsip, pendekatan, dan pengalaman yang dapat diadaptasi oleh negara-negara ASEAN sesuai karakteristik masing-masing.
“Meskipun komunitas dan organisasi yang kami kunjungi beroperasi dalam lingkungan lokal tertentu, wawasan yang mereka tawarkan tentang kesiapan, inklusi, ketahanan, kesukarelawanan, kemitraan, dan keberlanjutan sangat relevan di seluruh wilayah kita. Kami berharap Cross-Learning Exchange 3 ini akan memberikan kesempatan tidak hanya untuk belajar dari pengalaman Indonesia, tetapi juga untuk memperkuat hubungan antar negara anggota ASEAN dan mendorong refleksi tentang bagaimana pelajaran-pelajaran ini dapat diterapkan dalam konteks nasional masing-masing,” ujar Dr. Sithu Pe.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....