Erupsi Semeru Meningkat, Pakar UGM Waspadai Bahaya Banjir Lahar

  • 29 Jun 2026 19:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru sejak 20 Juni 2026 kembali menjadi perhatian. Seiring status Gunung Semeru yang ditetapkan pada Level III (Siaga) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap ancaman banjir lahar yang dinilai berpotensi lebih berbahaya dibandingkan erupsi itu sendiri.

Dosen Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Indranova Suhendro, mengatakan banyaknya material vulkanik yang menumpuk di lereng Gunung Semeru membuat potensi banjir lahar sangat besar ketika hujan turun.

“Material hasil erupsi harian yang berupa pasir, kerikil, dan batu dapat dengan mudah terbawa air hujan menuju sungai,” katanya, Senin, 29 Juni 2026.

Menurut Nova, banjir lahar dapat terjadi secara mendadak karena dipicu hujan di kawasan puncak gunung, meskipun wilayah di bagian bawah tidak mengalami hujan. Material vulkanik berukuran besar yang terbawa aliran air menjadi ancaman serius bagi masyarakat maupun aktivitas di sepanjang aliran sungai.

“Bisa saja di bawah tidak hujan, tetapi di puncak hujan deras dan tiba-tiba lahar datang. Yang berbahaya itu karena laharnya membawa bongkahan material besar,” ujarnya.

Ia menegaskan, kawasan aliran Sungai Besuksemut menjadi salah satu jalur yang harus diwaspadai karena merupakan lintasan utama awan panas maupun banjir lahar. Oleh sebab itu, masyarakat diminta mematuhi imbauan PVMBG agar tidak beraktivitas di radius bahaya maupun di sepanjang aliran sungai tersebut.

Nova juga menyoroti masih berlangsungnya aktivitas penambangan pasir di kawasan rawan bencana Semeru. Menurutnya, persoalan tersebut tidak sederhana karena menyangkut sumber penghidupan masyarakat, tetapi di sisi lain memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi.

“Kalau dari kacamata sains dan keselamatan, sebenarnya aktivitas itu tidak boleh dilakukan sama sekali. Namun, di sisi lain itu juga mata pencaharian mereka. Jadi, ini persoalan yang sangat sulit sehingga kebijakan terkait ini sangat tricky,” ujarnya.

Ia menilai pelarangan total terhadap aktivitas penambangan bukan solusi yang mudah diterapkan. Karena itu, langkah yang lebih realistis adalah memperkuat penerapan standar keselamatan kerja, termasuk memastikan perusahaan yang mempekerjakan penambang bertanggung jawab terhadap perlindungan pekerjanya.

Nova mengingatkan bahwa manusia hidup berdampingan dengan gunung api sehingga harus memahami karakteristiknya serta mematuhi seluruh rekomendasi dari otoritas dan para ahli saat aktivitas vulkanik meningkat.

“Jadi, ketika manusia memang sudah memilih jalan hidup untuk berdampingan dengan mereka, sudah seharusnya manusia memahami dan siap akan konsekuensinya. Ketika gunung sedang aktif, patuhilah himbauan dari pemangku kebijakan dan para ahli agar tetap aman,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nova menjelaskan setiap gunung api memiliki karakteristik erupsi yang berbeda. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan bersama tim, magma Gunung Semeru mengandung sekitar 50 persen fraksi kristal sehingga memiliki kekentalan yang tinggi.

“Dengan kondisi ini, maka magma yang keluar akan dierupsikan sebagai kubah lava yang berwujud seperti bisul,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kubah lava yang terus terbentuk di puncak Gunung Semeru rentan mengalami longsor akibat tekanan magma dari bawah maupun kondisi lereng yang curam. Runtuhnya kubah lava tersebut kemudian dapat memicu aliran piroklastik atau awan panas guguran.

“Ketika magma dari bawah terus mendesak kubah lava yang sudah ada di puncak dan tidak stabil, kubah tersebut dapat runtuh menghasilkan guguran awan panas,” ujarnya.

Nova mengingatkan, peristiwa serupa pernah terjadi pada 4 Desember 2021 ketika aliran piroklastik meluncur hingga sekitar 15–16 kilometer dari puncak Gunung Semeru.

Selain aktivitas magma, curah hujan juga menjadi faktor yang meningkatkan risiko runtuhnya kubah lava. Hujan membuat material di sekitar kawah menjadi lebih licin sehingga peluang terjadinya longsoran semakin besar.

Di samping itu, Semeru juga dikenal memiliki tipe erupsi Vulkanian yang dipicu akumulasi gas di bawah kubah lava. Ledakan tersebut melontarkan material vulkanik ke udara dengan intensitas yang cukup sering, meski dampaknya umumnya hanya terjadi di sekitar kawah.

“Erupsi Vulkanian sangat intens terjadi di Semeru dengan interval kejadian dalam hitungan jam hingga menit. Namun, dampak umumnya bersifat lokal dan terbatas di sekitar kawah,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....