UGM Teliti Kemunculan Titik Api di Rumah Warga Sleman

  • 02 Jun 2026 14:29 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Fenomena kemunculan api di sebuah rumah warga di Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, Yogyakarta, menjadi perhatian tim akademisi. Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) diterjunkan langsung ke lokasi untuk melakukan penelitian terhadap kemungkinan faktor pemicu munculnya titik api di rumah tersebut.

Investigasi dilakukan bersama sejumlah pihak, termasuk pakar dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, serta aparat setempat.

Jejak kebakaran tampak pada sejumlah perabot rumah tangga di berbagai sudut rumah, menunjukkan persebaran titik api yang muncul secara acak. Pemilik rumah, Mutfiana, mengaku pertama kali menemukan titik api pada Sabtu, 23 Mei 2026. Sejak saat itu, jumlah titik api terus bertambah hingga mencapai 65 titik.

Sementara itu, hingga observasi kedua yang dilakukan tim pakar pada Senin, 1 Juni 2026, kemunculan api tercatat telah terjadi sekitar 73 kali. Dalam sehari, api diperkirakan dapat muncul antara tujuh hingga sembilan kali di area rumah tersebut.

Sebelumnya, tim telah melakukan pengamatan awal pada Sabtu, 30 Mei 2026. Tim yang dipimpin Prof. Alva Edy Tontowi memeriksa sejumlah lokasi yang pernah mengalami kebakaran, mulai dari jaringan pipa air, kondisi bangunan, saluran limbah, hingga titik-titik kemunculan api.

Alva menjelaskan bahwa kemunculan api berkaitan erat dengan interaksi unsur dalam konsep segitiga api, yakni panas, oksigen, dan bahan bakar atau media pemicu.

“Segitiga api itu yang posisinya masing-masing kondisi optimum dan di situlah akan menyala. Nah, menyalanya memang di media-media. Tadi ada media kaos, kalau yang kejadiannya sebelumnya kan ada media-media yang lain dari plastik, dari yang lain-lain,” kata Alva.

Dari hasil identifikasi awal, tim memperoleh informasi bahwa kawasan permukiman tersebut berada di atas bekas rawa yang lembab dan kaya material organik, yang berpotensi menghasilkan gas metana dalam jumlah cukup besar. Berdasarkan temuan itu, tim melakukan pengukuran lapangan menggunakan thermal gun.

Dosen Departemen Teknik Geologi, Dr. Sardju Winardi, menjelaskan bahwa secara teori air yang mengandung metana tidak langsung terbakar saat masih berada di bawah permukaan tanah karena memerlukan kadar tertentu untuk memicu nyala api.

“Terbakarnya adalah ketika air keluar di permukaan dan berinteraksi dengan oksigen, metananya lepas. Lepasnya metana dari air itulah yang membuat dia terbakar,” ucapnya.

Selain mengamati kemungkinan pengaruh gas metana dan air limbah, tim juga melakukan pemantauan terhadap medan elektromagnetik di sekitar rumah. Dugaan penyebab dari faktor kelistrikan telah dikesampingkan karena dalam kondisi tertentu api dapat muncul secara spontan tanpa pemantik listrik.

Dalam penyelidikan ini, air limbah diduga menjadi salah satu faktor utama penyebab kemunculan api. Karena itu, tim mengambil sampel air limbah, air pipa, serta air sumur warga untuk diteliti lebih lanjut.

Ke depan, seluruh sampel tersebut akan diuji di laboratorium guna mengidentifikasi sumber dan mekanisme terbentuknya api secara menyeluruh dan objektif, sekaligus menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi.

Alva menyebut tim saat ini masih melakukan pengujian laboratorium terhadap data hasil observasi lapangan. Hasil kajian ilmiah mengenai penyebab pasti munculnya titik api di rumah warga itu dijadwalkan akan disampaikan dalam waktu dekat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....